Jumat, 30 Januari 2015

MEMBANGUN KECERDASAN SPRITUAL ANAK SEMENJAK DINI (Kiat Praktis Bagi Orang tua)



MEMBANGUN KECERDASAN SPRITUAL
ANAK SEMENJAK DINI
(Kiat Praktis Bagi Orang tua)

PENDAHULUAN
BAB I MEMBANGUN KECERDASAN SPIRITUAL ANAK
  1. Apa Itu Spiritualitas
  2. Apa itu Kecerdasan (Inteligensi)
  3. Apa saja Jenis-jenis Kecerdasan
  4. Kecerdasan Spiritual
  5. Kecerdasan Atas Dasar Spiritualitas Menurut Para Pakar
  6. Berbedakah Kecerdasan Spiritual dengan Sikap Religius

BAB II MENGENALKAN KECERDASAN SPIRITUAL KEPADA ANAK
  1. Mengenal Nilai-nilai Spiritual
  2. Mengartikan Kecerdasan Spiritual Secara Makna
  3. Pengaruh Kecerdasan Spiritual Terhadap Perkembangan Anak
  4. Apakah Anak Anda Telah Cerdas Secara Spiritual?

BAB III PENDIDIKAN KELUARGA BERBASIS  KECERDASAN SPRITUAL
  1. Hakikat Pendidikan dalam Islam
  2. Pendidikan SQ ala Sekolah Muhammad
  3. Pendekatan Yang Menyeluruh Holistik Dalam Pendidikan Anak

BAB IV MELEJITKAN KECERDASAN SPIRITUAL ANAK
A.    Bagaimana Mendidik sesuai dengan Kebutuhan Fitrah.
B.    Perkembangan Dan Pertumbuhan nilai Spritual Anak
C.    Mengajarkan Anak Mengenal Tuhan
D.    Kenalkan Nilai-nilai Ibadah, Muamalah, Akhlak
E.    Mengolah dan Memelihara Kecerdasan Spiritual Anak







MEMBANGUN KECERDASAN SPRITUAL
ANAK SEMENJAK DINI

PENDAHULUAN

Anak adalah masa depan, maka tidak jarang sebahagian orang tua juga mengatakan anak adalah aset kehidupan. Menyaksikan anak tumbuh dengan jiwa dan fisik yang sehat tentu menjadi harapan dan dambaan setiap orang tua. Apapun usaha yang dianggap bisa bermanfaat untuk kemajuan dan keberhasilan anak akan ditempuh dengan segala daya dan upaya.
Salah satu upaya tersebut adalah dengan pendidikan, baik pendidikan formal maupun informal. Anak dan pendidikan dapat diibaratkan dua sisi dari satu mata uang. Keduanya tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Membiarkan anak-anak tanpa pendidikan sama saja dengan membesarkan calon-calon monster yang sangat berbahaya dan mematikan bagi kehidupan masyarakat di masa depan. Sebaliknya, membesarkan anak dengan pendidikan yang benar dan tepat, tentu akan membentuk calon-calon manusia yang bermanfaat bagi manusia lain dan juga peradaban masa depan.
Kita sebagai orang tua tentu punya harapan, keberhasilan anak-anak kita adalah kebanggaan kita, sebaliknya kegagalan mereka tentu membuat kita ikut menanggung akibatnya. Tidak hanya sampai di dunia, di akhirat pun pasti kita akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah SWT, apakah kita berhasil atau gagal dalam menjaga dan mendidik anak-anak kita.
Sebagai orang tua, kita mempunyai peran yang sangat penting dalam kehidupan anak. Orang tua bertanggung jawab terhadap pemenuhan segala kebutuhan anak. Selain itu orang tua juga berperan sebagai guru pertama dan berperan penting dalam pembentukan sikap, kepercayaan, nilai dan tingkah laku anak. Peran orang tua harus berubah dan beradaptasi dengan perubahan yang terjadi sejalan dengan perkembangan anaknya.
Menjadikan anak sehat dan cerdas saja belum cukup untuk menjadi bekal dalam mengarungi kehidupan di masa yang akan datang di era pembangunan dan globalisasi seperti saat ini. Seseorang dituntut untuk mampu menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi setiap saat disekitarnya. Untuk  dapat menyesuaikan diri dengan baik terhadap lingkungan, seseorang haruslah memiliki perangkat perilaku dan kepribadian yang memungkinkan baginya untuk berproses sesuai dengan tuntutan lingkungan. Tentunya perangkat perilaku dan kepribadian itu harus dibentuk sejak awal kehidupannya.
Salah satu bekal pendidikan penting tersebut adalah bekal spiritual. Tugas orang tualah sebagai pendidik utama dan pertama yang harus menanamkan spiritualitas ini kepada anak. Untuk itu dalam buku ini penulis mencoba menjelaskan bagaimana kita orang tua membangun kecerdasan spiritual anak, agar cita-cata mendapatkan anak saleh dunia akhirat dapat tercapai.




























BAB I


MEMBANGUN KECERDASAN SPIRITUAL ANAK


G.    Apa Itu Spiritualitas
Setiap orang tua tentu mengetahui, keluarga merupakan dunia pertama bagi seorang anak. Dan orang tua hendaknya juga harus mengetahui bahwa setiap rangsangan yang diterima seorang anak sejak kecil, yang dilakukan secara sadar dan terarah maupun tidak sengaja oleh orang tua, akan membawa pengaruh dan arah perkembangan anak dikelak kemudian hari. Tentu saja tumbuh kembang seorang anak menuju kedewasaan tidak hanya ditentukan oleh potensi anak, juga dipengaruhi oleh usaha yang dilakukan orang tua dalam membesarkan dan mendidik serta faktor lingkungan yang lebih luas dimana anak dibesarkan.
Sedangkan pengajaran di sekolah dengan sistem pendidikan saat ini lebih menekankan pada pemikiran kritis yang hanya mengarah pada perkembangan kecerdasan intelektual melalui pengetahuan, kemampuan analisis dan kemampuan sintetis, tetapi kurang memberikan perhatian pada kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual yang amat dibutuhkan anak dalam penyesuaian diri terhadap lingkungan. Karena itu tidaklah cukup bila orang tua  yang mendambakan anak-anaknya menjadi anak yang sehat, cerdas, bermoral, berbudi pekerti luhur, ceria, mandiri dan kreatif hanya menyerahkan pendidikan mereka pada  pengajaran di sekolah saja.
Anak membutuhkan kesempatan yang lebih luas dari itu, seperti bersosialisasi dengan lingkungan yang lebih luas dan mendapat kegiatan untuk mengungkapkan fantasi serta potensi kreatifnya. Salah satu caranya adalah dengan membangun kecerdasan spiritual anak.
Belakangan ini semakin menjamur kelompok-kelompok studi atau sejenisnya yang menyatakan kelompoknya sebagai kelompok spiritual. Bahkan kata ’spiritual’ kini sudah semakin terdengar klise dengan terjadinya pergeseran makna dalam penggunaannya. Sebagai istilah, ia telah semakin dikacaukan dengan berbagai bentuk kanuragan, “pengeleakan”, “pengiwe”, praktek pedukunan, praktek medium, cenayang “pepeluasan”, atau fenomena okultistik lainnya, bahkan sampai-sampai mendekati ketakhyulan.
Ironis memang, kata spiritual, kini semakin kehilangan spirit-nya. Bukan hanya karena pergeseran-pergeseran pemaknaan seperti itu, akan tetapi berbagai keterbatasan lahiriah dan naluriah, kecenderungan-kecenderungan serta pengkondisi-pengkondisi lainnya, telah menyulitkan kita untuk memahami spirit, sang jiwa, sang roh, sang Maha Pencipta yang justru merupakan isu utama dunia spiritual.
Apa itu spiritualitas? Secara etimologi kata spiritualitas berasal dari “sprit” dan berasal dari kata Latin “spiritus”, yang diantaranya berarti “roh, jiwa, sukma, kesadaran diri, wujud tak berbadan, nafas hidup, nyawa hidup.” Dalam perkembangannya, kata spirit diartikan secara lebih luas lagi. Para filosuf, mengkonotasikan “spirit” dengan;
1.    Kekuatan yang menganimasi dan memberi energi pada cosmos
2.    Kesadaran yang berkaitan dengan kemampuan, keinginan, dan intelegensi
3.    Makhluk immaterial
4.    Wujud ideal akal pikiran (intelektualitas, rasionalitas, moralitas, kesucian atau keilahian).
Dilihat dari bentuknya, spirit menurut para ahli, paling tidak ada tiga tipe:  spirit subyektif, spirit obyektif dan spirit obsolut. Spirit subyektif berkaitan dengan kesadaran, pikiran, memori, dan kehendak individu sebagai akibat pengabstraksian diri dalam relasi sosialnya. Spirit obyektif berkaitan dengan konsep fundamental kebenaran (right, recht), baik dalam pengertian legal maupun moral. Sementara spirit obsolut yang dipandang sebagai tingkat tertinggi spirit adalah sebagai bagian dari nilai seni, agama, dan filsafat.
Secara psikologik, spirit diartikan sebagai “soul” (ruh), suatu makhluk yang bersifat nir-bendawi (immaterial being). Spirit juga berarti makhluk adikodrati yang nir-bendawi. Karena itu dari perspektif psikologik, spiritualitas juga dikaitkan dengan berbagai realitas alam pikiran dan perasaan yang bersifat adikodrati, nir-bendawi, dan cenderung “timeless dan spaceless”. Termasuk jenis spiritualitas adalah Tuhan, jin, setan, hantu, roh-halus, nilai-moral, nilai-estetik dan sebagainya. Spiritualitas agama (religious spirituality, religious spiritualness) berkenaan dengan kualitas mental (kesadaran), perasaan, moralitas, dan nilai-nilai luhur lainnya yang bersumber dari ajaran agama. Spiritualitas agama bersifat Ilahiah, bukan bersifat humanistik lantaran berasal dari Tuhan.

H.   Apa itu Kecerdasan (Inteligensi)
Kecerdasan merupakan salah satu anugerah besar dari Allah SWT kepada manusia dan menjadikannya sebagai salah satu kelebihan manusia dibandingkan dengan makhluk lainnya. Dengan kecerdasannya, manusia dapat terus menerus mempertahankan dan meningkatkan kualitas hidupnya yang semakin kompleks, melalui proses berfikir dan belajar secara terus menerus.
Dalam pandangan psikologi, sesungguhnya hewan pun diberikan kecerdasan namun dalam kapasitas yang sangat terbatas. Oleh karena itu untuk mempertahankan keberlangsungan hidupnya lebih banyak dilakukan secara instingtif (naluriah). Berdasarkan temuan dalam bidang antropologi, kita mengetahui bahwa jutaan tahun yang lalu di muka bumi ini pernah hidup makhluk yang dinamakan Dinosaurus yaitu sejenis hewan yang secara fisik jauh lebih besar dan kuat dibandingkan dengan manusia. Namun saat ini mereka telah punah dan kita hanya dapat mengenali mereka dari fosil-fosilnya yang disimpan di musium-musium tertentu. Boleh jadi, secara langsung maupun tidak langsung, kepunahan mereka salah satunya disebabkan oleh faktor keterbatasan kecerdasan yang dimilikinya. Dalam hal ini, sudah sepantasnya manusia bersyukur kepada Allah SWT, meski secara fisik tidak begitu besar dan kuat, namun berkat kecerdasan yang dimilikinya hingga saat ini manusia ternyata masih dapat mempertahankan kelangsungan dan peradaban hidupnya.
Lantas, apa sesungguhnya kecerdasan itu? Sebenarnya hingga saat ini para ahli pun tampaknya masih mengalami kesulitan untuk mencari rumusan yang komprehensif tentang kecerdasan. Dalam hal ini, C.P. Chaplin (1975) memberikan pengertian kecerdasan sebagai kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif. Sementara itu, Anita E. Woolfolk (1975) mengemukan bahwa menurut teori lama, kecerdasan meliputi tiga pengertian, yaitu :
1.    Kemampuan untuk belajar
2.    Keseluruhan pengetahuan yang diperoleh; dan
3.    Kemampuan untuk beradaptasi dengan situasi baru atau lingkungan pada umumnya.
Pada awalnya kajian tentang kecerdasan hanya sebatas kemampuan individu yang berhubungan dengan aspek kognitif atau biasa disebut Kecerdasan Intelektual yang bersifat tunggal, sebagaimana yang dikembangkan oleh Charles Spearman (1904) dengan teori “Two Factor”-nya, atau Thurstone (1938) dengan teori “Primary Mental Abilities”. Dari kajian ini, menghasilkan pengelompokkan kecerdasan manusia yang dinyatakan dalam bentuk Inteligent Quotient (IQ), yang dihitung berdasarkan perbandingan antara tingkat kemampuan mental (mental age) dengan tingkat usia (chronological age), merentang mulai dari kemampuan dengan kategori Ideot sampai dengan Genius.
Istilah IQ mula-mula diperkenalkan oleh Alfred Binet, ahli psikologi dari Perancis pada awal abad ke-20. Kemudian, Lewis Terman dari Universitas Stanford berusaha membakukan tes IQ yang dikembangkan oleh Binet dengan mempertimbangkan norma-norma populasi sehingga selanjutnya dikenal sebagai tes Stanford-Binet.
Pendapat lain mengatakan kecerdasan (inteligensi) adalah hal-hal yang menunjukkan kemampuan untuk menerima, memahami dan menggunakan simbol-simbol sehingga mampu menyelesaikan masalah-masalah yang abstrak, misalnya kecerdasan verbal, kecerdasan spasial, kecerdasan sosial dan banyak  lagi. Kecerdasan verbal menunjukkan kemampuan untuk mengerti dan menggunakan kata-kata. Kecerdasan spasial adalah kemampuan mengerti dan menggunakan obyek dalam ruang, sementara kecerdasan sosial adalah kemampuan untuk mengerti dan menggunakan informasi sosial.
Kecerdasan (Inteligensi) secara umum dipahami pada dua tingkat yakni
1.    Kecerdasan sebagai suatu kemampuan untuk memahami informasi yang membentuk pengetahuan dan kesadaran.
2.    Kecerdasan sebagai kemampuan untuk memproses informasi sehingga masalah-masalah yang kita hadapi dapat dipecahkan (problem solved) dan dengan demikian pengetahuan pun bertambah.
Jadi dalam bahasa yang sederhana dapat dipahami bahwa kecerdasan adalah pemandu bagi kita untuk mencapai sasaran-sasaran kita secara efektif dan efisien. Dengan kata lain, orang yang lebih cerdas, akan mampu memilih strategi pencapaian sasaran yang lebih baik dari orang yang kurang cerdas. Artinya orang yang cerdas mestinya lebih sukses dari orang yang kurang cerdas.
Tingkat kecerdasan (Intelegensi) bawaan ditentukan baik oleh bakat bawaan yaitu berdasarkan gen yang diturunkan dari orang tuanya maupun oleh faktor lingkungan, ini termasuk semua pengalaman dan pendidikan yang pernah diperoleh seseorang, terutama tahun-tahun pertama dari kehidupan yang mempunyai dampak kuat terhadap kecerdasan seseorang.
Secara umum intelegensi dapat dirumuskan sebagai berikut :
1.    Kemampuan untuk berpikir abstrak.
2.    Kemampuan menangkap hubungan-hubungan dan untuk belajar.
3.    Kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap situasi-situasi baru.
Ketiga rumusan ini menunjukkan aspek yang berbeda dari intelegensi, namun ketiga aspek tersebut saling berkaitan. Keberhasilan dalam menyesuaikan diri seseorang tergantung dari kemampuannya untuk berpikir dan belajar. Sejauh mana seseorang dapat belajar dari pengalaman-pengalamannya akan menentukan penyesuaian dirinya. Ungkapan-ungkapan pikiran, cara berbicara, cara mengajukan pertanyaan, kemampuan memecahkan masalah, dan lain sebagainya dapat mencerminkan kecerdasan. Akan tetapi, diperlukan waktu lama untuk dapat menyimpulkan kecerdasan seseorang berdasarkan pengamatan perilakunya, dan cara demikian belum tentu tepat pula.
Meningkatkan kecerdasan dapat dilakukan melalui proses pendidikan secara menyeluruh termasuk mereka yang memiliki kelainan fisik atau mental serta mereka yang mengalami kekurangan beruntungan dibidang sosial atau ekonomi. Kecerdasan bermakna luas. Robert J. Sternberg (1981), seorang ahli psikologi, mengartikan kecerdasan sebagai kemampuan untuk:
1.    Belajar, menyesuaikan diri terhadap lingkungan,
2.    Mengadaptasikan diri terhadap situasi baru dan
3.    Memanfaatkan pengalaman.
Agaknya sulit untuk membuat suatu definisi kecerdasan yang dapat mewadai semua sudut pandang dan semua kepentingan. Dalam konteks pembelajaran, pemahaman atas kecerdasan yang dimiliki oleh setiap pembelajar sangat diperlukan untuk mengatasi berbagai masalah pembelajaran seperti apa yang perlu dipelajari dan bagaimana cara mempelajarinya.

I.     Apa saja Jenis-jenis Kecerdasan
Lebih lanjut hadir teori baru tentang Multiple Intelligence yang menyatakan bahwa setiap anak memiliki beberapa potensi kecerdasan. Kegiatan pendidikan anak usia dini hendaknya memperhatikan kecerdasan atau potensi dalam diri anak tersebut ketika anak sedang belajar tentang dunianya. Setiap kecerdasan dapat dirangsang dengan cara yang berbeda.
Gardner menggunakan kata kecerdasan (intelligence) sebagai pengganti kata bakat. Ada sembilan kecerdasan yang diidentifikasi oleh Gardner yang disebut dengan kecerdasan majemuk (multiple intelligences), yaitu:
1.    Kecerdasan Metematis (Logical Mathematical Intelligence).
Kecerdasan ini merupakan suatu kemampuan untuk mendeteksi pola, berfikir deduktif, dan berfikir logis. Kemampuan ini sering diasosiasikan dengan berfikir secara ilmiah dan matematis.
Kecerdasan logis-matematis terlihat dari ketertarikan anak mengolah hal-hal yang berhubungan dengan matematika dan peristiwa ilmiah. Bedanya dengan kecerdasan lain, kecerdasan ini mempunyai suatu komponen khas, yakni sebagai kepekaan dan kemampuan untuk membedakan pola logika atau numerik, dan kemampuan menangani rangkaian penalaran yang panjang. Ciri-ciri anak yang mempunyai kecerdasan ini adalah ketika anak berusia 2-4 tahun senang sekali menghitung benda-benda di sekelilingnya. Bagi anak tersebut, lingkungan bisa dijadikan sebagai sarana untuk belajar, misalnya dengan menghitung jumlah kuntum bunga di sebuah cabang pohon di depan rumah.
Anak dengan kecerdasan Logis-Matematis biasanya pandai dalam sains dan matematika. Adapun ciri-cirinya adalah:
§  Menyukai hal-hal yang berhubungan dengan angka dan menghitung
§  Suka mencatat secara teratur
§  Senang menganalisa
Cara membangkitkan kecerdasan ini:
§  Dorong ia mencari solusi atau memecahkan masalah
§  Biarkan segala sesuatu diselesaikan secara bertahap
§  Coba eksperimen praktis
2.    Kecerdasan Bahasa (Linguistic Intelligence).
Kecerdasan Bahasa adalah kecerdasan untuk menguasai hal-hal yang berkaitan dengan bahasa. Kamampuan ini termasuk kemampuan memanipulasi bahasa untuk mengekspresikan diri mereka secara retoris. Ciri-cirinya adalah:
§  Menaruh minat pada orang yang berbicara dengannya di usia 3 bulan
§  Mengucapkan kata ma, pa pada usia sekitar 6 bulan
§  Mampu mengikuti perintah sederhana pada usia 6 bulan, misalnya: “Ayo, tunjukkan mana hidungmu pada Mama.”
§  Punya lebih dari 200 pependaharaan kata di usia 1 tahun
§  Menggunakan 2 kata kombinasi yang diucapkan dengan jelas seperti: “Mau minum” di usia 1 tahun dn kalimat pendek pada usia 3 tahun.
§  Orang tua mengerti apa yang dibicarakan anaknya pada usia 2 tahun dengan artikulasi yang jelas.
§  Pada usia 4 tahun, anak sudah mampu membuat kalimat lengkap dengan penempatan subjek, predikat, dan objek yang sempurna.
§  Pada usia 5 tahun, anak mampu merangkai cerita sederhana, bahkan beberapa anak mampu menuliskannya.
§  Pada usia 6 tahun, biasanya anak menyenangi kegiatan yang berkaitan dengan penggunaan bahasa seperti membaca, menulis karangan, membuat puisi, menyusun kata-kata mutiara dan sebagainya. Anak-anak seperti ini juga cenderung memiliki daya ingat yang kuat dan mempunyai argumentasi yang menonjol.
§  Anak dengan kecerdasan linguistic, sangat andai dalam mengolah kata-kata
§  Menyenangi cerita-cerita
§  Senang membaca dan menulis
§  Mudah mengungkapkan perasaan dengan kata-kata, baik lisan maupun tulisan
§  Punya ingatan tajam tentang hal-hal sepele
Cara membangkitkan kecerdasan ini:
§  Minta ia menceritakan hal-hal yang diketahuinya
§  Melakukan permainan kosa kata
§  Libatkan ia dalam menempel, memasang dan melipat kertas
§  Ajak ia berdiskusi
3.    Kecerdasan Ruang (Spatial Intelligence).
Anak dengan kecerdasan spatial atau ruang cenderung berfikir secara visual, kaya dengan kahyalan internal sehingga cenderung imajinatif dan kreatif. Mereka mampu memanipulasi dan menciptakan gambar di dalam fikiran mereka. Ciri-cirinya antara lain:
§  Sangat senang bermain dengan bentuk dan ruang (rancang bangun), seperti puzzle dan balok.
§  Hafal sekali jalan yang pernah dilewati. Ia akan protes kalau jalan yang dilewatinya berbeda. Tak jarang, ia memandu pengemudi untuk melalui jalan yang dikenalnya.
§  Tidak banyak bicara, melainkan lebih aktif mengerjakan hal-hal yang berkaitan dengan abstraksi ruang seperti mencoret-coret, mewarnai, bermain puzzle, menyusun balok, dan sebagainya. Kegiatan ini jauh lebih diminati anak dibandingkan dengan minat verbalnya.
§  Memiliki problem solving yang lebih baik dibandingkan anak lain karena dia bisa membayangkan apa yang akan terjadi setelahnya.
§  Senang mengukur-ukur mana yang lebih panjang dan pendek, besar dan kecil, atau jauh dan dekat dengan alat-alat sederhana yang ditemukannya di rumah atau dengan anggota tubuhnya sendiri seperti menjengkal atau melangkah.
§  Bisa menangkap perkiraan atau jarak. Jika berlari, ia bisa mengantisipasi diri dengan ruang hingga tak menabrak.
§  Memiliki perhatian yang tinggi terhadap detail, seperti gradasi atau ukuran yang sedikit berbeda, misal dua benda yang sama persis hanya beda sekian milimeter.
§  Pandai mempersepsi apa yang dia lihat
§  Mudah membaca peta, grafik dan diagram
§  Suka seni; menggambar, melukis dan memahat
§  Menyukai bacaan yang penuh gambar-gambar berwarna
§  Senang merekam peristiwa/kejadian dengan video kamera
Cara membangkitkan kecerdasan ini:
§  Gunakan gambar dalam belajar
§  Buat coretan/simbol-simbol untuk melambangkan sesuatu
§  Ajarkan ia peta pikiran
4.    Kecerdasn Musikal (Musical Intelligence).
Anak dengan kecerdasan musical memiliki ciri-ciri:
§  Mudah mengenali dan menyanyikan nada-nada.
§  Dapat mentranspormasikan kata-kata menjadi lagu dan menciptakan berbagai permainan musik.
§  Peka terhadap ritme, ketukan, melodi, atau warna suara dalam sebuah komposisi musik.
§  Terlihat menikmati saat bermain musik, suka bersenandung atau bernyanyi
§  Sangat suka mendengarkan lagu dan musik, bahkan kesedihan akan berkurang dikala mendengarkan lagu atau musik.
§  Dapat menyebutkan dengan tepat kunci nada saat mendengarkan musik.
§  Memiliki suara yang merdu.
§  Mampu mengingat syair dengan baik.
5.    Kecerdasan Gerak (Bodly-kinesthetic Intelligence).
Anak yang kecnderungan senang bergerak dan menyentuh. Mereka memilki kontrol pada gerakan, keseimbangan, ketangkasan, dan keanggunan dalam bergerak
Karakteristik anak yang cerdas secara kinestetik dapat diamati dengan mudah. Anak sangat senang bergerak seperti berlari, berjalan, melompat, dan sebagainya di ruangan yang bebas. Meski terkadang jatuh, tapi keadaan ini masih normal bila anak berusia di bawah tiga tahun. Jangan batasi geraknya, karena memang fisiknya sedang berkembang. Namun orang tua harus menjaganya agar tidak terjatuh.
Selain itu anak yang cerdas kinestetik pada usia balita juga mampu melempar benda secara terarah kira-kira sejauh satu meter, senang memanjat benda yang tinggi, bermain di air, dan naik turun tangga. Anak mampu melompat dengan dua kaki seperti lompat kodok. Kemampuan ini memerlukan keseimbangan tubuh dan biasanya dikuasai anak usia 4-5 tahun. Ketika lagu diputar, tubuhnya bergerak harmonis mengikuti irama musik. Senang aktivitas pura-pura (role playing) misalnya, pura-pura jadi kodok, bebek, menirukan orang menyetir mobil, atau memasak. Tidak menyukai duduk dalam waktu yang lama. Ciri lainnya, anak dapat melepaskan kaos, celana, dan kaos kaki sendiri. Juga bisa membangun jembatan dengan menggunakan balok-balok tanpa terjatuh. Aktivitas ini melibatkan keterampilan motorik halus, koordinasi visual motorik, dan keseimbangan.
 Ciri-cirinya adalah:
§  Terlihat tidak bisa diam, selalu ingin melakukan sesuatu, bergerak-gerak aktif ketika duduk. Deteksi ini bisa terlihat sejak bayi.
§  Senang kegiatan fisik, seperti melompat-lompat, olah raga atau permainan fisik, semisal kejar-kejaran, bersepeda, gulat-gulatan, dan sebagainya.
§  Anak perlu menyentuh objek yang sedang dipelajari. Misal, guru menerangkan dengan alat peraga. Nah, si body smart biasanya akan maju ke depan karena ingin menyentuh alat peraga tersebut.
§  Terampil mengerjakan kerajinan tangan seperti menjahit, membuat bentuk-bentuk dari lilin mainan, dan sebagainya.
§  Suka dan bisa menirukan perilaku/gerakan orang lain dengan baik, misalnya meskipun hanya sekali menyaksikan artis berlenggak-lenggok di layar kaca, anak sudah bisa menirukannya.
§  Suka bekerja dengan tanah liat, melukis dengan tangan atau bekerja dengan menggunakan anggota tubuh lainnya.
§  Suka mengutak-atik benda yang menarik baginya. Umpama, membongkar pasang mainan. Orang tua yang kurang berpendidikan akan menganggap anak ini nakal karena suka merusak mainannya.
§  Senang berolah raga
§  Resah jika tak melakukan apa-apa
§  Menyukai pelajaran olah raga
§  Belajar paling efektif dengan bergerak
Cara membangkitkan kecerdasan ini:
§  Ajak ia bermain peran
§  Gunakan gerak untuk belajar
§  Padukan gerak dengan semua mata pelajaran
6.    Kecerdasan alam (Naturalist Intelligence).
Anak dengan kecerdasan musical memiliki ciri-ciri:
§  Memiliki ketertarikan yang besar terhadap alam sekitar. Mereka menyukai benda-benda dan cerita yang berkaitan dengan peristiwa alam, misalnya terjadinya awan dan hujan, asal usul binatang, pertumbuhan tanaman hingga tatasurya.
§  Sangat tertarik dengan berbagai kegiatan yang dilakukan di luar rumah. Begitu juga dengan sistem pembelajaran di sekolah, dia lebih menyenangi aktifitas belajar yang dilakukan di luar ruangan atau kelas dengan mengobservasi alam.
§  Senang bermain di taman, kebun, serta akrab dengan berbagai binatang peliharaan seperti kucing, kelinci, anjing dan sebagainya.
§  Sering mempertanyakan berbagai gejala alam, entah itu mengenahi gempa, tsunami, dan sebagainya.
§  Menyukai aktifitas berkemah, hiking, memancing, dan kegiatan rekreasi lain yang berhubungan dengan alam, seperti pantai, laut, hutan, dan sebagainya.
§  Senang mengoleksi berbagai benda dari alam, seperti kerang-kerangan, batu-batuan, dan sebagainya.
7.    Kecerdasan interpersonal (interpersonal Intelligence).
Kemampuan untuk menjalin relasi social dengan orang lain. Anak dengan kecerdasan ini mampu mengetahui dan mengunakan beragam cara pada saat berinteraksi, sehingga tidak mengalami kesulitan untuk bekerja sama dengan orang lain. Mereka memiliki empati, toleransi sehingga dapat merasakan perasaan, pikiran, tingkah laku, dan harapan orang lain.
Kecerdasan interpersonal datang dari kemampuannya sendiri karena adanya kesadaran yang kuat. Ini dimanakan juga sebagai kecerdasan social. Adapun ciri-ciri selengkapnya adalah:
§  Memiliki Empati. Anak memiliki kemampuan memahami peasaan orang lain. Dia begitu peka dengan situasi dan kondisi yang ada dan tahu tindakan dan sikap yang harus dilakukan pada masing-masing kondisi, misalnya saat temannya sedih karena kehilangan boneka, dia berusaha menghiburnya dengan meminjamkan boneka miliknya.
§  Bersikap Asertif. Saat orang lain mencoba merampas haknya, dia tahu apa yang harus dilakukan. Dia bisa mengemukakan kepentingan dan hak-haknya tanpa merugikan orang lain, I am OK you are OK. Anak tidak pasif dengan selalu mengalah, tapi dia juga menjauhkan sikap egois yang menempatkan semua keinginannya di tingkat tertinggi. Dia bisa bertindak di antara ke dua sifat tersebut. Saat mobil mainannya direbut, dia tidak diam atau menangis tetapi juga tidak langsung memukul si perebut, melainkan berkata: “Jangan ambil mainanku sembarangan. Kamu boleh memainkannya setelah aku.”
§   Bisa Bekerja Sama. Anak bisa mengetahui dengan jelas mana yang menjadi tugasnya dan mana tugas orang lain. Dia juga tak punya masalah hubungan dengan masing-masing anggota kelompok. Tak jarang, kemampuannya bekerja sama membuat anak dipercaya memimpin kelompok tersebut. Jiwa kepemimpinannya memang terlihat jelas. Inisiatifnya mengambil keputusan sangatlah baik. Setelah memahami tugas yang di embannya, dia bisa mengatur dan mengendalikan teman-temannya untuk mencapai suatu tujuan. Seperti dalam permainan sepak bola, dia mampu mengatur para pemainnya agar memenangkan pertandingan. Anak dengan kecerdasan ini mampu menempatkan sesorang dalam posisi yang tepat, misalnya saat diberi tugas mendirikan tenda di perkemahan, dia bisa mengatur siapa yang memasang tali, menancapkan pondasi, memasang tiang, dan sebagainya.
§  Mediator dalam Konflik. Jiwa kepemimpinan yang dimiliki membuat anak lihai dalam menyelesaikan konflik antar teman. Terlebih jika anak mengenal dengan jelas kedua belah pihak yang bertentangan. Dengan kemampuan komunikasinya yang baik, dia bisa mengajak keduanya untuk menyelesaikan masalah dengan keputusan saling menguntungkan.
§  Gampang Berteman. Fleksibel, mudah bergaul, dan tidak pilih-pilih teman. Dia tidak alergi pada teman atau orang baru. Bahkan tak jarang, dia menganggap sosok yang baru dikenalnya tersebut sebagai teman lama.
8.    Kecerdasan intrapersonal (Intrapersonal Intelligence).
Anak yang meiliki pemahaman dan kendali yang baik mengenai diri sendiri. Mereka tahu apa yang didapat dan tidak dapat dilakukannya dalam lingkaran social.
Kecerdasan intrapersonal merupakan kecerdasan yang dimiliki individu untuk mampu memahami dirinya. Secara lebih sempit dapat diartikan merupakan kemampuan anak untuk mengenal dan mengindentifikasi emosi, juga keinginannya. Selain itu anak juga mampu memikirkan tindakan yang sebaiknya dilakukan dan memotivasi dirinya sendiri. Meskipun anak dengan karakter ini dapat mengintropeksi diri serta memperbaiki kekurangannya. Namun kadarnya dapat berbeda-beda. Anak dengan cerdas diri dapat mengekspresikan perasaannya secara verbal juga melalui bahasa tubuh.
Selain itu, anak dengan kecerdasan intrapersonal juga sering mengevaluasi suatu kejadian yang lalu. Anak memiliki kemampuan yang baik untuk mengolah informasi dari luar dan dalam pikirannya. Karena anak cerdas intrapersonal suka mengintropeksi dan berpikir, maka terlihat menyendiri dan pendiam
Penting diperhatikan, kecerdasan intrapersonal harus dibarengi pula dengan kecerdasan interpersonal. Biasanya, dalam kehidupan sehari-hari, misalnya di sekolah, anak-anak yang mempunyai kecerdasan intrapersonal terlalu menonjol, kesannya sulit diarahkan. Ini disebabkan, mereka memiliki prinsip diri yang kokoh. Mereka juga sangat keras kemauannya, sehinggga kalau sudah punya argumen atau pendapat, orang lain sering kali susah untuk mematahkannya.
Tidak heran di mata teman-temannya dia terkesan egois, mau menang sendiri, agak sulit bekerja sama dengan orang lain, ingin selalu dipahami dan bukan memahami, juga penampilannya sering kali eksentrik. Mereka juga terkesan tak butuh teman. Jika orang lain membencinya, mereka tak akan merasa sedih, kecewa, apalagi sampai meninggalkan keyakinannya hanya untuk bisa diterima bergabung dengan orang lain. Sebagian besar dari anak-anak ini juga mempunyai pribadi yang tertutup. Maksudnya, jika mereka mempunyai hobi, pendapat atau sesuatu hal, mereka tak pernah bicara kepada orang lain, kecuali pada segelintir teman dekat yang sangat dipercayainya. Itulah mengapa, anak-anak yang cerdas diri ini harus juga cerdas sosial, sehingga mereka bisa sensitif terhadap perasaan orang lain atau lingkungan sekitarnya.
9.    Kecerdasan spritual (Spritual Intelligence)
Kecerdasan spritual (spritual intelligence) adalah kemampuan mengenal dan mencintai ciptaan Tuhan. Kemampuan ini dapat dirangsang melalui penanaman nilai-nilai moral dan agama.
Ciri anak yang memiliki kecerdasan spiritual yang menonjol adalah baik pada sesama dan rajin menjalankan ibadah agamanya. Biasanya ini terlihat saat dia berinteraksi dengan sesama dan lingkungannya, sikapnya ramah dan baik pada siapa pun, tidak pernah membuka aib (kejelekan, kekurangan, dan kekhilafan) orang lain, dan mampu menangkap esensi dari agama yang dia anut.

J.    Kecerdasan Spiritual
Sudah tertanam anggapan umum pada masyarakat bahwa anak yang cerdas adalah anak yang memiliki kemampuan nilai eksakta yang bagus, dan sebaliknya. Anak cerdas adalah anak yang bisa diterima di jurusan IPA bukan IPS atau bahasa. Wajar jika sebagian besar orang tua cemas bila anaknya kurang pandai dalam matematika, fisika, atau pelajaran lainnya. Dan anak-anakpun merasa malu dan rendah diri terhadap teman-teman dan lingkungannya ketika jurusan mereka bukan jurusan IPA tapi IPS atau bahasa. Mereka merasa dinomor duakan dalam berinteraksi baik oleh guru, teman, bahkan orang tuanya.
Padahal kecerdasan tidak hanya terbatas pada intelektual, dikenal juga kecerdasan emosional (emotional intelligence) dan kecerdasan spiritual (spiritual intelligence). Tidak ada jaminan orang yang cerdas secara intelektual akan juga cerdas secara emosional dan spiritual. Idealnya dalam diri seseorang, ketiga kecerdasan ini harus ada. Dengan kecerdasan intektual orang akan sukses dalam pendidikan, dengan  kecerdasan emosional  membuat orang lebih mudah mencapai sukses dalam hidup dan untuk menyempurnakannya dengan menemukan kebahagiaan dan makna dari kehidupan, diperlukan kecerdasan spiritual. Bahkan sebahagian orang justru meyakini kecerdasan spiritual sebagai kecerdasan yang paling utama dibandingkan dengan berbagai jenis kecerdasan yang lain.
Kecerdasan spiritual (Spiritual Intelligence) diartikan juga oleh sebahagian orang sebagai kecerdasan manusia dalam memberi makna. Dalam kondisi yang sangat buruk dan tidak diharapkan, kecerdasan spiritual mampu menuntun manusia untuk menemukan makna. Manusia dapat memberi makna melalui berbagai macam keyakinan. Karena manusia dapat merasa memiliki makna dari berbagai hal, agama (religi) mengarahkan manusia untuk mencari makna dengan pandangan yang lebih jauh. Bermakna di hadapan Tuhan. Inilah makna sejati yang diarahkan oleh agama, karena sumber makna selain Tuhan tidaklah kekal.
Ada kesan yang salah bahwa, para orang sukses bukanlah orang yang relijius. Hal ini disebabkan pemberitaan tentang para koruptor, penipu, konglomerat rakus, yang memiliki kekayaan dengan jalan tidak halal. Karena orang-orang jahat ini tampak kaya, maka sebagian publik mendapat gambaran bahwa orang kaya adalah orang jahat dan rakus, para penindas orang miskin. Sebenarnya sama saja, banyak orang miskin yang juga jahat dan rakus. Jahat dan rakus tidak ada hubungan dengan kaya atau miskin. Para orang sukses sejati, yang mendapatkan kekayaan dengan jalan halal, ternyata banyak yang sangat relijius. Mereka menyumbangkan hartanya di jalan amal. Mereka mendirikan rumah sakit, panti asuhan, riset kanker, dan berbagai yayasan amal. Dan kebanyakan dari mereka menghindari publikasi.
Sejak manusia ini ada sampai sekarang ini, pengetahuan manusia tentang dririnya belum lengkap sehingga difinisi tentang manusia itu beraneka ragam dan berkembang terus. Perkembangan itu selaras dengan perkembangan sudut pandang serta pengetahuan tentang manusia itu sendiri. Plato, misalnya, memandang manusia sebagai kesatuan pikiran, kehendak, dan nafsu-nafsu.

K.    Kecerdasan Atas Dasar Spiritualitas Menurut Para Pakar
Ada dua pendapat seputar kecerdasan spritual yang selama ini ada dalam masyarakat. Salah satunya yang mengidientikkan nilai-nilai spritual dengan moralitas dan agama. Dilain pihak ada juga pendapat yang menganggap bahwa kecerdasan spiritual itu tidak sama dengan moralitas dan keagamaan. Dalam nilai agama, banyak orang yang hanya berpikir bagaimana caranya masuk surga tanpa memperdulikan orang lain. Ini berarti seseorang bisa saja sangat relijius tetapi tidak memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi. Karena yang disebut kecerdasan spiritual itu awalnya adalah dalam diri manusia itu bagaimana seseorang melihat dan memaknai hubungannya dengan pihak lain.
Pandangan kecerdasan spiritual yang sesungguhnya, dapat dijadikan alat untuk bisa membagi dan mengkategorikan tipologi manusia yaitu: Pertama, Conventional Type, yang lebih mengarah pada nurani manusia. Seseorang akan merasa hidup itu lebih pada menjalankan kewajiban-kewajibannya. Kedua, Social Type, lebih ke arah bahwa manusia itu akan merasa hidup memiliki nilai jika dia bisa bergaul dan memiliki teman yang banyak. Ketiga, Investigative Type, lebih ke arah ketika seseorang melihat sesuatu dan membuat cara berpikirnya adalah harus lebih tahu dan menggali lebih dalam lagi. Keempat, Artistic Type, itu lebih ke arah sisi musik, seni, sastra. Kelima, Realistic Type, tipe ini lebih pragmatis artinya seseorang bisa berpikir dalam kondisi tertentu apa yang harus dilakukan. Keenam, Enterprising Type, seseorang dalam tipe ini biasanya punya aspek untuk mengambil suatu resiko, kemampuan untuk lebih melihat bahwa hidup adalah suatu permainan dan dia akan mau mengambiI resiko.
Disitulah kecerdasan spiritual dianggap penting dan menjadi pondasi dasar dan bagaimana seseorang melihat hidup. Kecerdasan spiritual lebih ke arah nurani seseorang. Dengan kata lain kecerdasan spiritual lebih ke arah perkembangan diri pribadi dalam artian keseluruhan.
Pada prinsipnya kecerdasan spiritual sudah ada di diri manusia tapi masih bisa dikembangkan seperti halnya bakat. Jadi hal ini merupakan bagian dari proses pembelajaran. Karena tidak boleh melihat manusia itu sebagai satu dimensi, tapi multi dimensi dan kecerdasan spiritual adalah bagian dari dimensi lainnya manusia. Kecerdasan spiritual itu membantu membentuk manusia secara keseluruhan.
Untuk mengukur kecerdasan spiritual, tidak bisa dilakukan dengan cara yang dilakukan untuk mengukur kecerdasan intelektual. " Jadi untuk mendalami kecerdasan spiritual itu paling baik melalui tehnik interview, misalnya menanyakan pada kondisi tertentu seseorang akan melakukan apa. Jika secara kuantitatif, meskipun sudah banyak alat yang dikembangkan, akan mungkin banyak hal yang terlewatkan. Kecerdasan spiritual baru bisa terlihat dalam kondisi orang tersebut harus bertindak.
Kecerdasan spritual yang sepeti ini dipopulerkan oleh dadah Zohar dan Ian Marshall. Mereka membuktikan bahwa aspek spiritual manusia adalah sesuatu yang kurang lebih bersifat kodrati. Ia bahkan mendasari gerak perubahan individu dan kebudayaan dari zaman ke zaman. Pemikiran mereka bertolak dari ''penemuan'' ukuran kecerdasan yang disebut SQ (spiritual quotient atau spiritual intelligence, kecerdasan spiritual). Selama ini kita hanya mengenal ukuran kecerdasan yang disebut IQ (intelligence quotient, kecerdasan intelektual), dan belakangan-sejak pertengahan tahun 1990-an yang dipopulerkan oleh Daniel Goleman-kita mengenal EQ (emotional quotient, kecerdasan emosional).
Kecerdasan spiritual ini adalah kecerdasan tertinggi yang memiliki daya ubah yang amat tinggi sehingga dapat mengeluarkan manusia dari situasi keterkungkungannya. Kecerdasan spiritual memungkinkan manusia menjadi kreatif mengubah aturan dan situasi dalam suatu medan tak terbatas.
Ada beberapa bukti ilmiah keberadaan SQ yang dikemukakan Zohar dan Marshall, di antaranya adalah penelitian neuropsikolog Michael Persinger di awal tahun 1990-an, dan lebih mutakhir lagi tahun 1997 oleh ahli saraf VS Ramachandran bersama timnya dari Universitas California, yang menemukan adanya God spot ("titik Tuhan") dalam otak manusia.
"Titik Tuhan" ini memang tidak membuktikan keberadaan Tuhan, tetapi menunjukkan kecenderungan otak manusia yang berkembang ke arah pencarian agenda-agenda fundamental dalam hidup, seperti rasa memiliki, masalah makna, dan nilai kehidupan. Bukti lainnya dikutip dari penelitian neurolog Austria, Wolf Singer, pada tahun 1990-an tentang "problem ikatan" the binding problem yang menunjukkan adanya proses saraf dalam otak manusia yang mengarah pada usaha mempersatukan dan memberi makna dalam pengalaman hidup kita.
Paradigma baru SQ ini menawarkan suatu cara pandang yang lebih luas dan utuh integral dan holistik terhadap sosok manusia. Bila selama ini tingkat IQ begitu diperhatikan sehingga tak jarang dijadikan sebagai modal awal kesuksesan hidup, maka SQ menggeser itu semua dalam suatu definisi yang sama sekali baru.
SQ kemudian merupakan suatu cara berpikir yang bersifat unitif atau menyatukan dengan kemampuan membingkai ulang segala persoalan dan  mengontekstualisasikan semua pengalaman hidup manusia. SQ berusaha mengundang manusia pada puncak ketinggian untuk melihat segala persoalan hidup dari perspektif keseluruhan yang lebih luas, lebih tinggi, dan lebih dalam. SQ menghidupkan semangat bahwa manusia tidak saja hidup dalam dunia, tetapi adalah bagian utuh dunia, sehingga setiap jengkal langkah manusia adalah bagian dari proses universal yang lebih besar.
Pada titik inilah kesadaran diri menjadi salah satu kriteria tertinggi dari kecerdasan spiritual yang tinggi. Kesadaran diri penting bagi tiap individu untuk mengembangkan dan merumuskan motif hidup bermakna, motif mencapai keutuhan, dan dalam menjalani proses perubahan yang tiada henti. Kesadaran diri juga penting untuk menggali dan menjelajahi potensi spiritual yang dimiliki tiap manusia sehingga akhirnya dapat mengantarkan pada definisi motivasi dan tujuan hidup yang utuh.
Pemikiran yang menyajikan tentang kecerdasan spiritual menjadi penting diapresiasi ketika dilihat dari perspektif paradigmatik yang ditawarkan. Pada aras paradigmatik, pemikiran tersebut menghadirkan suatu cara pandang baru terhadap kecerdasan dan struktur psikologis manusia dan membuktikan bahwa ada semacam kodrat spiritual yang melekat dalam diri manusia yang penting untuk dikelola, karena di situlah sebenarnya napas kehidupan dapat ditemukan.
Agama sebagai salah satu corong spiritualitas belakangan ini nyaris dikebiri, dan hanya untuk kepentingan kelompok serta kekuasaan, sehingga malah melahirkan kekerasan. Oleh karena itu, perspektif baru tentang kecerdasan spiritual ini pada akhirnya juga mendorong segenap umat beragama untuk bersikap lebih cerdas dan dewasa terhadap spiritualitas agamanya masing-masing dengan bersikap yang terbuka, toleran, inklusif, serta jujur dan tulus. Dengan demikian, perspektif kecerdasan spiritual ini sebenarnya juga dapat mempertemukan berbagai tradisi keagamaan dalam suatu wilayah dialog yang lebih terbuka.
Pendapat danah Zohar dan Ian Masshall inilah yang berulang-ulang kali menyebutkan ketiadaan hubungan antara pemikiran tentang kecerdasan spiritual ini dengan agama. Pandangan ini adalah pandangan yang khas Barat yang, katakanlah, "sekuler". Dan banyak pakar yang mengatakan bahwa pemikiran mereka mirip dengan seri buku psikologi populer yang penuh dengan janji-janji dan penerapan praktis untuk meningkatkan dan memanfaatkan kecerdasan spiritual itu sendiri, akan tetapi pemikiran mereka sangat layak didiskusikan untuk mencermati arah baru perkembangan dunia psikologi yang seperti mulai saling menyapa dengan tradisi spiritual atau agama. Perjumpaan epistemologis ini diharapkan dapat menjadi suatu modal awal yang baik untuk arah pembangunan masa depan umat manusia di seluruh dunia yang damai dan sejahtera.
Selain pendapat di atas ada juga yang berpendapat bahwa Kecerdasan spiritual atau SQ, tak lepas kaitannya dengan Yang Maha Kuasa. Segala tindak tanduk manusia di muka bumi ini, selalu berkaitan dengan Yang Di Atas. Dalam SQ, kejujuran adalah kunci utama seseorang baik dalam pergaulan maupun dalam pekerjaan.
Manusia memang makhluk yang penuh dengan liku-liku misteri dan sulit  dapat dipahami secara utuh, termasuk jenis kecerdasan yang dimilikinya. Penelitian tentang manusia berkembang terus dan mungkin tidak pernah tuntas dan berakhir. Lebih dari dua ribu tahun yang lalu, Plato mengatakan: Kemampuan memahami hakikat manusia yang berasal dari roh dan hidup menjadi bagian dari alam semesta, serta akan kembali kepenciptanya, hal inilah yang disebut SQ Atau kecerdasan spiritual
Kesengsaraan manusia pada dasarnya disebabkan kebodohan yang berakar pada ketidakmampuan manusia itu sendiri mengenali dirinya. Sampai sekarangpun kemampuan manusia mengenali dirinya itu masih terbatas. Pengenalan diri yang dimaksud tidak hanya secara fisik, tetapi memahmi hakikat diri manusia itu seutuhnya. Oeh karena itu, para ahli terus menerus berupaya memahami potensi diri yang ada pada manusia. Keingintahuan yang lebih mendasar dan filosofis tentang manusia memotivasi para hali untuk melakukan penelitian-penelitian lebih lanjut.
Kecerdasan spritual merupakan penggerak dalam menggunakan jenis-jenis kecerdasan lain secara sendiri-sendiri atau secara bersamaan. Hasil penelitian itu diperkuat oleh Michael Persinger, ahli Psikologi saraf dan riset terakhir (1997) oleh V.S. Ramachandran, ahli syaraf, dan timnya dari Universitas California. Penelitian terakhir ini menemukan adanya God-Spot dalam otak manusia yang merupakan pusat spiritual yang terletak antara jaringan syaraf otak.
SQ juga merupakan kemampuan menyikapi dan memperlakukan orang lain seperti diri sendiri dan motivasi yang mendasari setiap perbuatan dilakukan tidak semata-mata kepentingan diri sendiri, tetapi lebih memperhatikan kepentingan orang banyak dengan dasar kesetaraan sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan.
Manjadi cerdas secara spiritual berarti kita mampu memahami diri kita sendiri, siapa kita sebenarnya, dari mana asal kita, kemana kita akan pergi (tujuan hidup kita). Sebagai makhluk spiritual dan juga merupakan bagian dari alam semesta, manusia memiliki sifat-sifat yang murni atau bersih, suci, kasih, bijaksana, ikhlas, serta sifa-sifat ilahi lainnya. SQ juga kesadaran hati yang paling bening dan jernih sehingga dapat mengenali dan menemukan kebenaran yang murni dan sejati. Kebenaran itu tidak hanya dilihat dari mata manusia, tetapi juga dari mata Tuhan, pencipatanya.
Terlepas dari pendapat para pakar dunia barat, dalam islam Allah menjelaskan dalam Al-Qur’an:
Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung”. (Al Quran Al Karim Surah Al Baqarah ayat 1 – 5)

Danah Zohar dan Ian Marshall jelas-jelas mengatakan bahwa SQ bukanlah bagian dari Agama. “SQ tidak mesti berhubungan dengan agama. Bagi sebagian orang SQ merupakan cara pengungkapan melalui agama formal, tetapi beragama tidak menjamin SQ tinggi. Banyak orang humanis dan atheis memiliki SQ sangat tinggi, sebaliknya banyak orang yang aktif beragama memiliki SQ sangat rendah.”
Kita juga tidak bias menafikan bahwa sangat banyak orang yang berlindung dibalik kalimat “agama-agama Timur”, begitu juga dengan buku-buku SQ yang cenderung mengeneralisir semua agama, apakah itu agama samawi maupun ardi. Akan tetapi ada sebuah usaha yang sangat luar biasa yang dikemukakan oleh Ary Ginanjar Agustian. Bahwa spritualitas diekstraksi dari Rukun Islam dan Rukun Iman.
Banyak orang yang latah dlam mengunakan terminology kecerdasan spiritual, padahal konsepnya sendiri masih terus dipertentangkan. Dipertentangkan sebagaimana layaknya konsep-konsep lain yang “mencari-cari bentuk” agar bisa diterima berbagai kalangan, mencari-cari bentuk agar bisa melakukan “lintas kepercayaan dan agama”.
Sebuah analogi sederhana kitika kita ditanya tentang alasan berpuasa di bulan Ramadhan? Jawaban yang muncul mungkin beragam seperti: Agar Spiritual saya jadi cerdas dan ada juga jawaban agar mencapai ketaqwaan kepada Allah.
Jika jawaban anda adalah yang pertama maka siapa saja, agama apa saja, boleh dan bisa melakukan puasa, tanpa konsekuensi lain apapun. Tapi jika jawaban anda yang kedua maka banyak konsekuensi lain yang kemudian harus anda terima. Diantaranya adalah konsekuensi Al Baqarah 1- 5 tadi, bahwa selain berpuasa anda juga harus beriman kepada Allah, Malaikat, Kitab Allah, Rasul-rasulNya, Hari Kiamat, melaksanakan sholat, menunaikan zakat Jika anda hanya berpuasa saja, maka itu tidaklah lengkap.
Konsekuensi lain yang bisa kita paparkan juga adalah, bahwa panggilan untuk melaksanakan puasa Ramadhan adalah panggilan kepada Iman:
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (Al Quran Al Karim Surah Al Baqarah ayat 183)

Panggilan tersebut memberikan konsekuensi lain tentang definisi orang yang beriman. Kita rujuk kemudian ke Al Quran Al Karim:

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. (Al Quran Al Karim Surah Al Mu’minun 1-11)

Rangkaian ayat surat Al Mu’minun tadi merupakan perpaduan antara ibadah formal (sholat, zakat) dan ibadah non formal (menjaga perkataan, menjaga kehormatan, mengemban amanah). Begitulah Iman, dia adalah integrasi antara hubungan vertikal kepada Allah dan horizontal kepada manusia.

Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas. (Al Quran Al Karim Surah Ali Imran ayat 112)

Dan semua itu tidak ada dalam ajaran agama lain, hanya Islam saja. Sisi inilah yang tidak dilihat oleh Danah Zohar dan Ian Marshall. Mereka menganggap bahwa agama hanyalah kumpulan doktrin ritual belaka. Tapi Islam tidaklah seperti itu, ia juga mengatur hingga masalah-masalah sosial kemasyarakatan. Anda akan temukan banyak sekali hadits Rasulullah Muhammad saw yang mengajarkan tentang teknis hubungan horizontal itu, tapi anda juga dapat temukan muara pada hadits tadi, yakni janji balasan dari Allah.
Sebagai contoh kecil adalah sebuah hadits Nabi Muhammad saw tentang adab makan:
Hudzaifah r.a. berkata: Kami biasa jika hadir dalam suatu hidangan makan bersama Rasulullah saw, tidak berani meletakkan tangan di atas makanan hingga Rasulullah saw lebih dahulu meletakkan tangan di atas makanan itu. Dan pada suatu hari kami menghadapi hidangan makan, mendadak seorang perempuan seperti ada yang mendorongkannya untuk meletakkan tangan mengambil makanan itu, maka oleh Rasulullah saw dipegang tangannya, kemudian datang pula seorang Badui, seolah-olah didorong akan meletakkan tangan pada makanan itu, maka dipegang juga oleh Rasulullah saw. Kemudian Nabi saw bersabda: Sesungguhnya syaithan merebut makanan yang tidak disebut nama Allah, dan ia mendatangkan wanita ini untuk mengambil bagian dari makanan ini, maka saya pegang tangannya. Kemudian mendatangkan Badui ini untuk mengambil bagian dari makanan ini, maka saya pegang tangannya. Demi Allah yang jiwaku ada di tanganNya, bahwa tangan syaithan itu terpegang oleh saya bersama tangan kedua orang ini. Kemudian Rasulullah saw menyebut nama Allah dan makan. (Hadits Riwayat Muslim)

‘Aisyah r.a. berkata: “Ketika Rasulullah sawa sedang makan-makan bersama enam orang dari sahabatnya, mendadak datang seorang Badui, lalu makan semua isi hidangan itu dalam dua kali suap. Maka bersabda Rasulullah saw : Andaikan ia menyebut nama Allah tentu akan mencukupi kamu sekalian.” (Hadist Riwayat At Tirmidzi)

Konsekuensi lain jika anda menjawab yang kedua maka harus pula mengambil semua komponen taqwa yang ada di dalam Al Quran. Salah satu diantaranya yang mungkin akan terasa sangat berat bagi orang-orang yang mengagungkan mazhab lintas agama:
Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Al Qur'an) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat- Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa. (Al Quran Al Karim Surah Al Baqarah ayat 41)
Dan bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang mukmin itu harus bertawakal. (Al Quran Al Karim Surah Al Maidah ayat 11)

Memurnikan ketaatan kepada Allah itulah yang disebut sebagai Ikhlas, sebuah terminologi Islam lain yang juga sudah dilencengkan dari makna asalnya.
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (Al Quran Al Karim Surah Al Bayyinah ayat 5)

Jadi sangat kentara sekali perbedaan antara kedua pilihan. Dan sungguh kita ummat muslim ini diperintahkan untuk mengejar derajat Taqwa itu, dan hal inilah yang membedakan seseorang yang memiliki kecerdasan spiritual.

L.    Berbedakah Kecerdasan Spiritual dengan Sikap Religius
Kecerdasan spiritual tidak hanya diartikan terbatas pada rajin shalat, rajin beribadah, rajin ke masjid, dan ritual ibadah-ibadah lainnya. Tetapi, kecerdasan spiritual itu juga kemampuan seseorang untuk memberi makna dalam kehidupan. Selain itu ada juga orang yang menambahkan kecerdasan spiritual itu sebagai kemampuan untuk tetap bahagia dalam situasi apapun tanpa tergantung kepada situasinya.
Mengutip Tony Buzan, pakar mengenai otak dari Amerika,  menyebutkan bahwa ”Ciri orang yang cerdas spiritual itu di antaranya adalah senang berbuat baik, senang menolong orang lain, telah menemukan tujuan hidupnya, jadi merasa memikul sebuah misi yang mulia kemudian merasa terhubung dengan sumber kekuatan di alam semesta yaitu Tuhan, dan punya sense of humor yang baik”.
Penelitian itu dilanjutkan sampai muncul aliran di dalam psikologi yang membuat terapi baru. Dulu kalau ada orang depresi diobati dengan obat anti depresi seperti prozak, sekarang cukup disuruh beramal, menolong orang lain, ternyata terjadi perbaikan. Dengan menolong dan beramal, dia menemukan bahwa hidupnya bermakna, dan itu namanya kecerdasan spiritual. Jadi, bagi seorang muslim orang yang cerdas spiritual itu tidak cukup atau tidak selesai hanya dengan  rajin salat saja, atau beribadah, tapi juga yang senang membantu orang lain, meninggalkan hal-hal yang akan menimbulkan kemurkaan Allah, mempunyai kemampuan empati yang tinggi, juga terhadap penderitaan orang lain, dan bisa memilih kebahagiaan dalam hidupnya.
Sejalan dengan ayat-ayat yang telah diterangkan di atas bahwa kecerdasan spritual bisa tercipta dengan adanya pemaknaan terhadap nilai-nilai ke-Tuhanan dan nilai-nilai ke-Tuhanan tersebut bisa terbangun tidak hanya dengan pemaknaan hubungan vertikal dengan Tuhan tapi juga dengan adanya pemaknaan terhadap nilai-nilai hubungan horizontal terhadap sesama.

Pada Dasarnya Manusia Memiliki SQ untuk Dikembangakan
Setiap individu normal memiliki kecerdasan-kecerdasan yang telah dikemukakan diatas. Masing-masing kecerdasan itu telah ada sejak manusia lahir. Jadi, pengenalan atas diri sehingga seseorang menyadari siapa dia, dari mana, dimana dia berada, dan kemana dia pergi.
Kecerdasan spritual telah dimiliki oleh anak kecil sekalipun. Hal ini dapat dilihat dari kepolosan, kebeningan, serta kesucian anak berpikir, berbicara dan berbuat. Pengabaian atas kecerdasan spritual ini serta penekanan pada jenis kecerdasan lainnya, dapat mengakibatkan kegagalan dalam kehidupan di kemudian hari.
Seseorang dapat berhasil memperoleh banyak harta, banyak pengetahuan, banyak kerabat, tetapi itu semua bukan jaminan bahwa orang itu telah mencapai kepuasan serta kedamaian lahir dan batin. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan ia menemukan kegersangan dan kegelisahan dalam kehidupan sehari-hari karena banyak yang dilakukannya selama ini tidak sesuai atau bertentangan dengan hati nuraninya.
Agama banyak memberikan perhatian bagaimana cara meningkatkan dan mendayagunakan IQ dan EQ melalui pelajaran agama, manusia memperoleh pengetahuan dan pemahaman atas keberadaan diri dan tujuannya. Sebenarnya yang dikehendaki oleh agama tidak hanya berhenti pada batas pengetahuan dan pemahaman saja, tetapi kesadaran dan aktualisasi diri dalam berbagai perbuatan sebagai tindak lanjutnya. Melakukan kegiatan ibadah agama merupakan kewajiban setiap pemeluk agama. Tetapi, tentu tidak hanya sebagai kegiatan ritual semata yang kemudian menjadi rutinitas yang tidak bermakna karena tidak didasari oleh kesadaran bahwa ibadah itu dilakukan dalam konteks hubungan antar manusia dan Penciptanya.
Berbuat baik atau menolong sesama dianjurkan oleh ajaran agama. Membantu orang lain memiliki makna spiritual apabila dilakukan bukan semata karena anjuran, tetapi karena kesadaran bahwa orang lain itu adalah sama dengan dirinya sendiri, memiliki asal serta tujuan hidup yang sama, mempunyai hak dan kewajiban yang sama pula. Dengan kesadaran itu, seseorang menyadari kebergantungan kepada orang lain dan tidak dapat hidup sendirian tanpa orang lain. Dengan kesadaran itu, semua manusia adalah bersaudara dan setiap perbuatan dapat diartikan sebagai mampu mengasihi Tuhan melebihi mengasihi dirinya sendiri dan mengasihi sesama manusia sama seperti ia mengasihi dirinya sendiri. Mengasihi berarti juga tidak melecehkan atau merendahkan orang lain.
Pengalaman spiritual adalah puncak tertinggi yang dapat dicapai oleh manusia serta merupakan peneguhan dari keberadaannya sebagai makhluk spiritual. Untuk membantu manusia memperoleh pengalaman spiritual ini, agama membantu dengan mengajarkan iman, berdoa atau sembahyang untuk memperoleh ketenangan batin, berpuasa, beramal dan bersyukur serta penyerahan diri secara total kepada Tuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar