FUNDAMENTALISME DI INDONESIA
A. Pengenalan
Dewasa ini banyak kalangan yang begitu peduli dengan
situasi keberagamaan dunia pada umumnya dan Indonesia pada khususnya. Berbagai
gerakan muncul mencoba menjawab tantangan zaman, dan tidak sedikit juga yang muncul
sebagai counter atau penangkal dari zaman yang sudah semakin “buruk” dalam
pandangan mereka.
Sebut saja gerakan funmentalisme. Istilah ini
belakangan sering mucul diberbagai media massa, tidak hanya di tingkat
nasional, tetapi juga internasional. Gerakan fundamentalisme ini dikhawatirkan
oleh banyak pihak akan menjurus pada gerakan yang lebih radikal seperti ancaman
terorisme. Dimana gerakan ini selalu berlindung di bawah paham fundamentalisme agama, terutama agama Islam.
Karena itulah, kita sering sekali mendengar istilah
fundamentalis tapi konotasinya atau lebih idientik dengan dengan
fundamentalisme Islam atau Islam fundamentalis yang memiliki kesan negative dan
ekstremisme. Padahal, kalau dilihat lebih dalam, fundamentalis yang berakar
pada agama itu tidak hanya Islam, melainkan juga agama lain seperti Kristen,
Katolik, Hindu, Budha, Yahudi, dan Konghucu.
Dalam banyak literatur, para pakar mengatakan bahwa
tidak ada yang salah dari fundamentalisme, karena gerakan ini adalah gerakan
yang mencoba memurnikan ajaran agama, atau mengembalikan ajaran agama kepada
khittahnya. Namun, pada prakteknya, istilah ini lebih dekat kepada gerakan
“pemaksaan” pemahaman keagamaan yang pada ujungnya terkesan lebih radikal.
Padahal kalau di runut dari sejarah, itilah
fundamentalisme ini justru pertama kali muncul di dunia Barat oleh gerakan
Kristen Protestan Amerika. Mereka memerangi masyarakat sekuler yang baik maupun
yang buruk, mengisolasi dari kehidupan bermasyarakat, dan memusihi akal pikiran
hasil penemuan ilmiah. Dengan demikian pendidikan mempunyai peranan yang sangat
penting untuk mengoptimalkan kualitas kemanusiaan sesuai fitrahnya. Dan, hal
itu akan bisa diaplikasikan dalam kehidupan masyarakat.
Kaum fundamentalisme ini muncul lebih kepada
ketidakberdayaan mereka dalam menghadapi arus globalisasi yang kenyataanya
memang sulit dibendung. Bahkan sedikit sekali yang terfiltrasi oleh masyarakat
sehingga menyebabkan lahirnya perilaku masyarakat yang inmoral dan menyimpang
dari norma-norma agama.
Dibanyak daerah, masuknya kebudayaan luar yang
cenderung merusak tatanan hidup masyarakat yang telah terikat dengan
nilai-nilai luhur religiutas, membuat banyak kalangan khawatiran akan
tercabutnya akar-akar tatanan sosial masyarakat madani. Maka dari itulah, kaum
fundamentalis muncul sebagai penyaring dan pembendung dari hancurnya
norma-norma agama tersebut, hanya saja kemunculan gerakan ini justru membuat
resah banyak pihak karena pada kenyataanya gerakan ini justru meresahkan dan
bahkan terlihat sangat radikal.
Dalam buku ini akan mengupas bagaimana tradisi Islam
muncul di Indonesia, kemudian bagaimana perkembangannya sehingga pada aklhirnya
melahirkan gerakan yang dinamakan fundamentalisme. Dalam buku ini juga akan du
ulas berbagai gerakan fundamental, penyebap kelahirannya hingga mereka
menguasai berbagai dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara seperti menguasai
panggung politik di Indonesia.
DAFTAR ISI
FUNDAMENTALISME DI INDONESIA
Pengenalan
BAB I: MENGENAL DEMOGRAFI INDONESIA
BAB II: ISLAM DI INDONESIA
A. Sejarah Islam di Indonesia
B. Hubungan Antar Umat Beragama di Indonesia
BAB III: KEBANGKITAN FUNDAMENTALISME AGAMA
DI INDONESIA
A. Akar Sejarah Fundamentalisme Di Indonesia
B.
Perkembangan
Fundamentalisme di Indonesia
C. Karakteristik Gerakan Fundamentalisme Di Indonesia
BAB IV: KLASIFIKASI ISLAM KONTEMPORER DI
INDONESIA
A. Islam Kultural
·
NahdatulUlama -
Traditionalist Social Organization
·
Muhammadiyah– Modernist Social Organization
·
Perkumpulan
Jamiat Kheir (1901 – 1919)
·
Salafiyah Movement
·
Sufi Tarekat
B. Islam Politik
·
PKS – PartaiKeadilan Sejahtera (Prosperous Justice
Party)
·
PKB – PartaiKebangkitanBangsa (National Awakening
Party)
·
PPP - Partai
Persatuan Pembangunan (United Development Party)
·
PAN – PartaiAmanatNasional (National Mandate Party)
C. Islam Kampus
·
Tarbiyah Movement
·
HizbutTahrir
D. Islam Radikal
·
Darul Islam-Indonesia Islamic State
·
Jamaah Islamiyyah (Majelis Mujahidin Indonesia)
·
Front Pembela Islam - Islamic Defender Front
BAB V: FUNDAMENTALISME DALAM AGAMA LAIN DI INDONESIA
A. Kristen dan fundamentalis
B.
Buddhis dan Fundamentalis
C.
Hindu dan Fundamentalis
D. Tantangan dan Prospek
BAB I
MENGENAL DEMOGRAFI INDONESIA
Indonesia adalah Negara yang menghuni lebih 17.508 pulau
degan jumlah total populasi sekitar 250 juta penduduk, dan merupakan negara
berpenduduk terpadat nomor empat di dunia. Komposisi etnis di Indonesia amat
bervariasi karena negeri ini memiliki ratusan ragam suku dan budaya. Meskipun
demikian, lebih dari separuh jumlah penduduk Indonesia didominasi oleh dua suku
terbesar: suku Jawa (41 persen dari total populasi) dan suku Sunda (15 persen
dari total populasi).
Suku Jawa dan Sunda ini berasal dari pulau Jawa, pulau dengan
penduduk terbanyak di Indonesia yang mencakup sekitar enam puluh persen dari
total populasi Indonesia. Jika digabungkan dengan pulau Sumatra, jumlahnya
menjadi 80 persen total populasi. Ini adalah indikasi bahwa konsentrasi
populasi terpenting berada di wilayah barat Indonesia. Propinsi paling padat
adalah Jawa Barat (lebih dari 43 juta penduduk), sementara populasi paling
lengang adalah propinsi Papua Barat di wilayah Indonesia Timur (dengan populasi
hanya sekitar 761,000 jiwa).[1]
|
Suku Bangsa
|
Populasi
|
Persentase
|
Kawasan utama
|
|
95.217.022
|
40,22
|
||
|
36.701.670
|
15,5
|
||
|
8.466.969
|
3,58
|
||
|
7.179.356
|
3,03
|
||
|
6.807.968
|
2,88
|
||
|
6.462.713
|
2,73
|
||
|
6.359.700
|
2,69
|
||
|
5.365.399
|
2,27
|
||
|
4.657.784
|
1,97
|
||
|
4.127.124
|
1,74
|
||
|
4.091.451
|
1,73
|
||
|
3.946.416
|
1,67
|
||
|
3.173.127
|
1,34
|
||
|
3.009.494
|
1,27
|
||
|
2.832.510
|
1,2
|
||
|
2.672.590
|
1,13
|
||
|
1.877.514
|
0,79
|
||
|
1.251.494
|
0,53
|
||
|
1.237.177
|
0,52
|
Demografi Indonesia
http://id.wikipedia.org/wiki
Mayoritas peduduk Indonesia memeluk agama Islam, sedangkan di Bali agama
Hindu lebih dominan. Di daerah lainnya seperti Minahasa di Sulawesi Utara,
dataran tinggi Toraja di Sulawesi Selatan, pulau Nusa Tenggara, dan sebagian
besar Papua, dataran tinggi Batak dan juga Pulau Nias di Sumatra Utara,
mayoritas penduduknya beragama Katholik dan Protestan. Secara keseluruhan pada
dasarnya masyarakat Indonesia sangat religius.
Pemerintah Indonesia hanya mengakui enam agama resmi, yakni Islam, Kristen
Katolik, Kristen Protestan, Hindu, Buddha, dan Khonghucu. 80.3% dari 240.271.522 penduduk Indonesia adalah pemeluk Islam, 9,2% Protestan, 3,5% Katolik, 1,8% Hindu, dan 0,4% Buddha dan Khonghucu
Pancasila sebagai dasar falsafah negara Indonesia membawa masyarakatnya
untuk memiliki sikap toleransi terhadap setiap penganut agama, adat dan
tradisi. Hal itu semakin diperkuat dengan semboyan "Bhinneka Tunggal
Ika" yang berarti "Meskipun berbeda-beda tetapi tetap
satu jua".
Indonesia yang terdiri dari berbagai macam pulau-pulau memiliki budaya
dan bahasa yang saling berhubungan namun berbeda. Sejak kemerdekaannya Bahasa Indonesia (sejenis dengan Bahasa Melayu) menyebar ke seluruh penjuru Indonesia dan menjadi bahasa yang paling
banyak digunakan dalam komunikasi, pendidikan, pemerintahan, dan bisnis. Namun
tidak meninggalkan bahasa daerah masing-masing.
Sebagai Negara yang terlitak dipersimpangan benua, Indonesia
merupakan Negara perdangangan dan persingahan berbagai kalangan di dunia dan
khususnya dikawasan Asia. Karena kondisi itulah, akhirnya banyak sekali imigran
yang berdatangan ke Indonesia. Dan imigran yang
lebih banyak datang dari China tenggara, merupakan penduduk keturunan asing
yang terbanyak, menyebar hampir di semua kota besar di Indonesia. Demikian pula
pendatang dari Arab, Hadramaut Yaman merupakan kelompok pendatang kedua
terbanyak dan disusul oleh pendatang dari India dan sekelompok kecil dari
Eropa.
Luas dan banyaknya jumlah penduduk di Indonesia, membuat Indonesia
menghadapi beberapa masalah besar anatara lain:
3.
Angkatan
kerja sangat besar,
perkembangan lapangan kerja yang tersedia tidak sebanding dengan jumlah penambahan
angkatan kerja setiap tahun.
4.
Distribusi
Kegiatan Ekonomi masih belum
merata, masih terkonsentrasi di Jakarta dan kota-kota besar dipulau Jawa.
Banyak sekali hal penting yang mendukung
perkembangan Indonesia dilihat dari komposisi demografi yang memiliki hubungan
dengan perekenomian adalah penduduk usia muda yang ada di Indonesia.
Mereka adalah kekuatan kerja (asal ada cukup banyak kesempatan kerja). Rata-rata usia penduduk Indonesia adalah 28.2
tahun (perkiraan tahun 2011). Ini adalah median age yang berarti separuh dari populasi Indonesia
berusia 28.2 tahun lebih dan separuhnya lagi umurnya di bawah 28.2 tahun.
Mengenai jenis kelamin, rata-rata median
age wanita di
Indonesia adalah 28.7 tahun, sementara median
age pria lebih muda
setahun (27.7 tahun)
BAB II
ISLAM DI INDONESIA
C. Sejarah Islam di Indonesia
Sebagai agama dakwah, Islam disebar luaskan kebanyak tempat dan daerah. Dan proses penyebaran
ini lebih banyak dilakukan oleh para pedagang muslim yang juga berperan sebagai
dai. Para pedangang ini melakukan akwah Islam dengan berbagai metode hingga
akhirnya sampai ke penjuru Nusantara.
Semenjak Islam masuk ke
Indonesia hingga Indonesia merdeka penganutnya semakin bertambah. Sehingga
menjadikan Indonesia sebagai negara nomor satu di dunia dengan jumlah penduduk
yang beragama Islam.
Islam masuk ke
Indonesia melalui dakwah yang damai dan bukan dengan ketajaman mata pedang.[2] Akan tetapi sejauh menyangkut kedatangan Islam di indenesia terdapat
diskusi dan perdebatan panjang di antara para ahli, mengenai tiga masalah
pokok, tempat asal kedatangan Islam, para pembawanya, dan waktu kedatangannya.[3]
Tidak ada teori yang
secara komprehensif mampu menjawab tiga persoaln tersebut. Akan tetapi Islam
menyebar di India dan semenanjugn Arab hingga ke Malaya kemudian masuk ke
Indonesia. Pada beberapa daerah, Islam disebarkan melalui penaklukkan, akan
tetapi di Asia Tenggara Islam disebarkan oleh para pedagang dan aktivitas sufi.[4]
Seorang penulis
berkebangsaan Barat, Thomas W. Arnold menjelaskan bahwa Islam dibawa ke
Nusantara oleh pedagang-pedagang Arab sejak abad pertama hijriah, lama sebelum
adanya catatan sejarah. Pernyataan ini diperkuat dengan adanya perdagangan yang
luas oleh orang-orang Arab dengan dunia timur sejak masa awal Islam.[5]
Di dalam Tarikh China,
pada tahun 674 M, terdapat catatan tentang seorang pemimpin Arab yang
mengepalai rombongan orang-orang Arab dan menetap di pantai barat Sumatera.
Kemudian berdasarkan kesamaan mazhab yang dianut oleh mereka (pedagang dan
muhballigh) anut, yaitu mazhab Syafi’i. Pada masa itu mazhab Syafi’I merupakan
mazhab yang dominan di pantai Corromandel dan Malabor ketika Ibnu Batutah
mengunjungi wilayah tersebut pada abad ke-14.[6]
Dalam pernyataan diatas, Arnold mengatakan
bahwa Arabia bukan satu-satunya tempat asal Islam dibawa, tapi juga dari
Corromander dan Malabar. Versi lain yang dipaparkan oleh Azyumardi Azra yang
mengutip beberapa pendapat dan teori sarjana, kebanyakan sarjana Belanda yang
berpegang pada teori yang mengatakan bahwa Islam masuk ke Nusantara berasal
dari anak Benua India bukan Persia atau Arab. Sarjana pertama yang mengemukakan
teori ini adalah Pijnappel, seorang pakar dari Leiden. Dia mengaitkan asal
muasal Islam di Nusantara dengan dengan wilayah Gujarat dan Malabar. Menurut
dia, adalah orang-orang yang bermazhab Syafi’I yang bermigrasi dan menetap di
wilayah India tersebut yang kemudian membawa Islam ke Nusantara.[7] Teori ini dikembangkan oleh Snoujk Hurgronje
Moquetta, seorang
sarjana belanda lainnya, berdasarkan hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa
tempat asal Islam di Nusantara adalah Cambay, Gujarat. Dia berargument bahwa
tipe nisan yang terdapat baik di Pasai maupun Gresik memperlihatkan tipe yang
sama dengan yang terdapat di Cambay, India.[8]
Teori-teori diatas
kelihatan berbeda, namun mempunyai beberapa persamaan, yaitu Islam dibawa oleh
pedagang Arab dan sama-sama menganut mazhab Syafi’i. Perbedaannya ialah, Arnold
mengatakan bahwa pedagang itu ada yang langsung dari Arabia dan ada yang
berasal dari Corromander dan Malabar, sementara pendapat yang dikutip Azra
menjelaskan bahwa para pedagang ini berasal dari anak benua India.
Selain dari itu,
seminar yang dilaksanakan di Medan pada tahun 1963, tahun 1978 di Banda Aceh,
dan tanggal 30 september 1980 di Rantau Kuala Simpang tentang sejarah masuk dan
berkembangnya Islam di Indonesia menyimpulkan bahwa agama Islam masuk ke
Indonesia pada abad I H langsung dari tanah Arab melalui Aceh.[9] Kemudian daerah yang pertama kali didatangi Islam ialah pesisir
Sumatera. Para muballigh itu selain sebagai penyiar agama juga merupakan
pedagang. Dan penyiaran Islam di Indonesia dilakukan secara damai.[10]
Beberapa teori lain,
sebgaimana yang dihimpun oleh Muhammad Hasan al-Idrus menjelaskan dua teori
yang berbeda yang bertolak belakang, yaitu:
1.
Teori dari sarjanawan
Eropa yang menjelaskan bahwa Islam pertama kali masuk ke Indonesia pada sekitar
abad ke-13 M, ketika Marcopolo singgah di Utara pulau Sumatera pada tahun 1292
M.[11]
2.
Teori yang dikemukakan
oleh beberapa sarjana Arab dan Muslim, antara lain Muhammad Dhiya’ Syahab dan
Abdullah bin Nuh yang menulis kitab al-Islam fi Indonesia, serta Syarif Alwi
bin Thahir al-Haddad seorang mufti kesultanan Johor Malaysia dalam kitabnya
yang berjudul al-Madkhal ila Tarikh al-Islam fis Syarqi al-Aqsha, keduanya
menolak teori yang dikemukakan oleh para sarjanawan Barat yang mengatakan bahwa
Islam masuk ke Asia Tenggara khusunya ke Malaysia dan Indonesia pada abad ke-13
M. mereka meyakini bahwa Islam masuk pada abad ke-7 H, karena kerajaan Islam
baru ada di Sumatera pada sekitar akhir abad ke-5 dan ke-6 H. Hal ini mereka
pertegas dengan mengemukakan beberapa bukti, antara lain tentang sejarah
kehidupan seorang penyebar agama Islam di Jawa yakni Seikh Muhammad Ainul Yaqin
(Sunan Giri) bin Maulana Uluwwul Islam Makhdum lahir pada tahun 1355 tahun
Jawa. Sedangkan ayahnya masuk ke Jawa setelah masuknya Sayrif al-Husein raja
Carmen pada tahun 1316 tahun Jawa. Setelah itu masuk Raden Rahmat, seorang
penyebar agama Islam di Jawa Timur pada tahun 1316 tahun Jawa.[12]
3.
Teori yang dikemukakan
oleh MC. Riflefs dalam bukunya A History of Modern Indonesia (London: McMillan
Education) h. 3, yang mempertegas bahwa masuknya Islam ke Indonesia ialah
ketika Marcopolo singgah di Sumatera tahun 1292 M. Marcopolo, ketika itu
meliaht bahwa telah ada batu bertulis tentang kerajaan Islam pertama di Samudra
yang disebut dengan kerajaan Islam di Pasai
Satu lagi teori yang
dikutip oleh Azyumardi Azra adalah bahwa Islam telah masuik ke Indonesia sejak
abad ke-13 H melalui kegigihan para kaum sufi yang mengembara dan melakukan
penyiaran Islam secara ataraktiv, khusunya dengan menekankan kesesuaian Islam
dan komunitas daripada perubahan dalam praktek kepercayaan lokal. Mereka juga
mengawini putri para penguasa pada masa itu untuk mempermudah pengembangan
Islam. Faktor pendukung lainnya adalah tasawwuf yang memang telaha da sebagai
sebuah kategori dalam literatur sejarah Melayu khususnya di Nusantara pada
waktu itu.[13]
Teori versi Indonesia
menjelaskan bahwa Islam masuk ke Indonesia dibawa oleh para pedangan dari
Persia, Arab dan India melalui pelabuhan penting seperti pelabuhan Lamuri di
Aceh, Barus dan Palembang di Sumatera sekitar abad I H/7 M.[14]
Dari beberapa teori
diatas dapat diketahui bahwa, sesungguhnya ada perbedaan dikalangan sejarawan
dalam melihat kapan dan dari mana Islam masuk ke Nusantara untuk pertama
kalinya. Namun perbedaan-perbedaan tersebut tidak sampai mengkaburkan tentang
ada dan berkembangnya agama Islam di Nusantara ini, sebagai salah satu wilayah
yang mayoritas penduduknya adalah muslim.
Lantas, dengan cara
seperti apa proses penyebaran Islam di Indonesia begitu cepat terjadi dan diterima
oleh penduduk setempat pada waktu itu?
Pada dasarnya, Islam
disebarkan di Nusantara dengan cara damai dan tidak dengan kekerasan apalagi
dengan pedang. Islam masuk seirama dengan budaya setempat, bahkan Islam tidak
melakukan perubahan secara radikal dan sporadic.
Dalam sejarah dikatakan
bahwa Islam dijadikan stabilisator apabila stuasi politik sedang mengalami
ketidak-stabilan karena perebutan kekuasaan antara beberapa kalangan.[15]
Badri Yatim mengutip pendapat Candarsasmita yang mengatakan bahwa penyeberan
Islam di Indonesia dilakukan dengan cara damai melalu enam cara berikut:[16]
1.
Perdagangan.
Pada tahap awal, jalur
perdagangan adalah satu-satunya jalan yang paling memungkinkan , karena
lalu-lintas perdagangan memang telah ramai sejak abad ke-7 sampai abad ke-16 M.
Jalur ini sangat menguntungkan karena para raja-raja juga terlibat dalam
aktivitas perdagangan ini, bahkan mereka merupakan pemilik kapal dan saham.
Selanjutnya jalur ini menjadi lebih penting dan strategis karena sebagaian dari
mereka adalah penguasa, sehingga proses Islamisasi lebih mudah terlaksana.
2.
Perkawninan.
Dari sudut ekonomi,
para pedagang muslim mempunyai status yang lebih baik dibandingkan dengan
mayoritas penduduk pribumi, sehingga penduduk pribumi dan khususnya para putri
raja tertarik untuk menjadi istri para saudagar. Sebelum mereka menikah,
biasanya putri ini diIslamkan terlebih dahulu. Setelah mereka mempunyai
keturunan, dengan otomatis tentu saja lingkungan dan penduduk muslimpun semakin
luas hingga mereka bisa membentuk pemukiman, hingga pada gilirannya
terbentuklah kerajaan-kerajaan Islam. Jalur ini menguntungkan karena dengan
keterlibatan kalangan istana dan keturunannya akan mempercepat proses
Islamisasi. Demikianlah yang dilakukan oleh Raden Rahmat atau sunan Ampel dengan
Nyai Manil, Sunan Gunung Jati dengan putri Kawungten, Brawijaya dengan puteri
Campa yang menurunkan Raden Fatah (raja pertama kerajaan Demak).
3.
Tasawwuf.
Pengajar-pengajar
tasawwuf atau para sufi mengajarkan ajaran agama bercampur dengan kebudayaan
yang telah masyarakat kenal sebelumnya. Para muballigh ini juga mahir dalam
ilmu kebathinan dan pengobatan. Dengan cara dan jalur ini, Islam menyeber
dengan cara yang menyentuh dan memberi kesan damai. Diantara mereka ini adalah
Hamzah Fansyuri di Aceh, Sekh Lemang Abang dan Sunan Panggung di Jawa.
4.
Pendidikan.
Penyebaran agama Islam
juga dilakukan melalu jalur pendidikan, yakni pesantren meskipun dalam arti
yang lebih sederhana. Di pesantren atau pondok, para kyiai dan guru mengajar
dan menyebarkan ajaran Islam. Santri-santri yang telah menamatkan kajiannya
akan keluar dan wajib menyebarkan ajaran Islam. Conth pesantren ini adalah
seperti pesantren yang didirikan oleh Sunan Ampel di Ampel, dan Sunan Giri di
Giri.
5.
Kesenian.
Penyebaran dakwah
melalui kesenian maksudnya adalah menyampaikan dakwah ajaran Islam melalui
kesenian yang telah ada dan dikenal dekat oleh masyarakat setempat. Di Jawa,
media utamanya adalah wayang, dalam hal ini Sunan Kalijaga adalah salah satu
sunan yang ahli memainkan wayang, setiap kali penonton ingin menyaksikan
pertunjukannya, beliau meminta mereka untuk mengucapkan kalimat syahadat, namun
beliau tidak mengatakan bahwa itu merupakan ucapan bagi orang yang akan masuk
agama Islam. Selanjutnya dalam setiap lakon yang dimainkan, seperti kisah Mahabrata
dan yang lainnya, maka beliau akan menyelipkan nama tokoh Islam. Tanpa
disadari, kepada para penonton telah diperkenalkan beberapa ajaran Islam. Cara
ini ternyata sangat efektif, karena para penonton tidak merasa terpaksa untuk
mengikuti dakwah dan ajaran yang disebarkan melalui media wayang.
6.
Politik dan Kekuasaan.
Di kepulauan Maluku dan
Sulawesi Selatan, kebanyakan para penduduk masuk Islam setelah rajanya memeluk
agama Islam terlebih dahulu, sehingga peran dan partisipasi raja sangat
membantu proses Islamisasi di daerah tersebut. Di bagian Timur Indonesia baik
di daerah Sumatera dan Jawa banyak kerajaan-kerajaan Islam yang demi
kepentingan politiknya memerangi kerajaan non-Islam. Ke-enam jalur yang
dipergunakan oleh para pembawa ajaran Islam seolah-olah terlihat menumpang di
sela-sela institusi yang telah dikenal oleh masyarakat setempat, baik melalui
kesenian dan kebudayaan masyarakat.
Di sisi lain, ternyata
media dan jalur ini mempunyai kelemahan, yakni sulitnya masyarakat untuk
membedakan antara ajaran Islam dengan cerita pewayangan ataupun dongeng yang
diberikan. Akan tetapi pada saat itu, inilah cara yang paling mungkin dan
paling efektif, karena memang akan sangat sulit untuk memperkenalkan agama
Islam sebagai agama baru kepada masyarakat yang telah mempunyai keyakinan
keberagamaan lain, apalagi keyakinan mereka itu adalah hal yang sudah sangat
melembaga dan bersifat turun-temurun. Adapaun beberapa faktor yang mendorong
perkembangan masyarakat Islam adalah antara lain sebagai berikut:
1.
Hubungan baik antara para saudagar pembawa ajaran
Islam dengan pemerintah atau penguasa setempat.
2.
Saudagar-saudagar itu tidak mencampuri urusan politik.
3.
Saudagar-saudagar muslim itu lebih dahulu
mempraktekkan ajaran agamanya pada dirinya dalam berinteraksi dengan masyarakat.
4.
Tidak ada paksaan dalam dakwah.
5.
Beberapa keistimewaan ajaran Islam dibandingkan ajaran
Hindu dan Budha dan agama lainnya yang dianut oleh masyarakat setempat.[17]
Faktor-faktor tersebut
menarik kegemaran penduduk setempat untuk menganut agama Islam dengan suka
hati, disamping para saudagar yang datan ke-gugusan pulau-pulau Nusantara tidak
membawa serta istri mereka atau memang mereka belum mempunyai istri. Hal ini
kemudian mendorong mereka untuk menikahi wanita-wanita penduduk pribumi, dan
tentu saja isteri-isteri mereka ini akan masuk Islam, dengan begitu, serta
keturunan mereka akan memperbanyak kaum muslim di daerah tersebut.
Pendapat lain yang
hampir serupa mengemukakan bahwa setidaknya ada tiga determinasi yang
mempercepat proses penyebaran agama Islam di Indonesia.
1.
Karena ajaran Islam itu
mengajarkan tauhid
Ajaran tauhid ini merupakan
ajaran baru yang secara diametral bertentangan dengan hubungan kemasyarakatan
saat itu yaitu sistem kasta yang merupakan ajaran Hindu. Selain itu, Islam juga
mengajarkan egalitarian (keadilan), kesamaan serta prinsip rasionalitas. Islam
tidak pernah memerintahkan sesuatu yang diluar jangkauan para penganutnya.
2.
Ajaran Islam bersifat
fleksibel
Ajaran agama merupakan
kodifikasi kebenaran-kebenaran universal. Misalnya ada sesuatu yang telah
berkembang pada masyarakat, maka Islam tidak akan merubahnya secara spontan.
Tetapi manakala hal itu bertentangan dengan ajaran Islam, maka disinilah
dilakukan proses Islamisasi.
3.
Ketiga adalah bahwa
pada akhirnya Islam itu digunakan untuk melawan ekspansi luar atas mereka.[18]
[1] http://www.indonesia-investments.com/id/budaya/demografi/item67
[2] Azyumardi Azra, Renessaince Islam di Asia Tenggara (Bandung: Remaja Rosda Karya,
1999) hal: 75-76.
[3] Azyumardi Azra,
Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII (Bandung: Mizan, 1998) hal:. 24.
[4] Ira M. Lapidus, Sejarah
Sosial Ummat Islam, ter. Kieraha (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2000) hal:
717
[8] Hasan Mu’arif Ambary,
Menemukan Peradaban Jejak Arkeologis dan Historis Islam di Indonesia (Jakarta:
Logos Wacana Ilmu, 2001) h. x.
[18] Fakhri Ali dan Bachtiar
Efendi, Merambah Jalan Baru Islam: Rekonstruksi Islam Indonesia Masa Orde Baru
(Bandung: Mizan, 1986) h. 32
Tidak ada komentar:
Posting Komentar