MEMBANGUN KECERDASAN SPRITUAL
ANAK SEMENJAK DINI
(Kiat Praktis Bagi Orang tua)
PENDAHULUAN
BAB I MEMBANGUN
KECERDASAN SPIRITUAL ANAK
- Apa Itu Spiritualitas
- Apa itu Kecerdasan (Inteligensi)
- Apa saja Jenis-jenis Kecerdasan
- Kecerdasan Spiritual
- Kecerdasan Atas Dasar Spiritualitas Menurut Para Pakar
- Berbedakah Kecerdasan Spiritual dengan Sikap Religius
BAB II
MENGENALKAN KECERDASAN SPIRITUAL KEPADA ANAK
- Mengenal Nilai-nilai Spiritual
- Mengartikan Kecerdasan Spiritual Secara Makna
- Pengaruh Kecerdasan Spiritual Terhadap Perkembangan Anak
- Apakah Anak Anda Telah Cerdas Secara Spiritual?
BAB III
PENDIDIKAN KELUARGA BERBASIS KECERDASAN
SPRITUAL
- Hakikat Pendidikan dalam Islam
- Pendidikan SQ ala Sekolah Muhammad
- Pendekatan Yang Menyeluruh Holistik Dalam Pendidikan Anak
BAB IV MELEJITKAN
KECERDASAN SPIRITUAL ANAK
A.
Bagaimana Mendidik sesuai dengan
Kebutuhan Fitrah.
B.
Perkembangan Dan Pertumbuhan nilai
Spritual Anak
C.
Mengajarkan Anak Mengenal Tuhan
D.
Kenalkan Nilai-nilai Ibadah,
Muamalah, Akhlak
E.
Mengolah dan
Memelihara Kecerdasan Spiritual Anak
MEMBANGUN KECERDASAN SPRITUAL
ANAK SEMENJAK DINI
PENDAHULUAN
Anak adalah masa depan, maka tidak jarang sebahagian
orang tua juga mengatakan anak adalah aset kehidupan. Menyaksikan anak tumbuh
dengan jiwa dan fisik yang sehat tentu menjadi harapan dan dambaan setiap orang
tua. Apapun usaha yang dianggap bisa bermanfaat untuk kemajuan dan keberhasilan
anak akan ditempuh dengan segala daya dan upaya.
Salah satu upaya tersebut adalah dengan pendidikan, baik
pendidikan formal maupun informal. Anak dan pendidikan dapat diibaratkan dua
sisi dari satu mata uang. Keduanya tidak dapat dipisahkan antara satu dengan
yang lainnya. Membiarkan anak-anak tanpa pendidikan sama saja dengan
membesarkan calon-calon monster yang sangat berbahaya dan mematikan bagi
kehidupan masyarakat di masa depan. Sebaliknya, membesarkan anak dengan
pendidikan yang benar dan tepat, tentu akan membentuk calon-calon manusia yang
bermanfaat bagi manusia lain dan juga peradaban masa depan.
Kita sebagai orang tua tentu punya harapan, keberhasilan
anak-anak kita adalah kebanggaan kita, sebaliknya kegagalan mereka tentu
membuat kita ikut menanggung akibatnya. Tidak hanya sampai di dunia, di akhirat
pun pasti kita akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah SWT, apakah kita berhasil
atau gagal dalam menjaga dan mendidik anak-anak kita.
Sebagai orang tua, kita mempunyai peran yang sangat
penting dalam kehidupan anak. Orang tua bertanggung jawab terhadap pemenuhan
segala kebutuhan anak. Selain itu orang tua juga berperan sebagai guru pertama
dan berperan penting dalam pembentukan sikap, kepercayaan, nilai dan tingkah
laku anak. Peran orang tua harus berubah dan beradaptasi dengan perubahan yang
terjadi sejalan dengan perkembangan anaknya.
Menjadikan anak sehat dan cerdas saja belum cukup untuk
menjadi bekal dalam mengarungi kehidupan di masa yang akan datang di era
pembangunan dan globalisasi seperti saat ini. Seseorang dituntut untuk mampu
menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi setiap saat
disekitarnya. Untuk dapat menyesuaikan diri dengan baik terhadap
lingkungan, seseorang haruslah memiliki perangkat perilaku dan kepribadian yang
memungkinkan baginya untuk berproses sesuai dengan tuntutan lingkungan.
Tentunya perangkat perilaku dan kepribadian itu harus dibentuk sejak awal
kehidupannya.
Salah satu bekal pendidikan penting tersebut adalah bekal
spiritual. Tugas orang tualah sebagai pendidik utama dan pertama yang harus
menanamkan spiritualitas ini kepada anak. Untuk itu dalam buku ini penulis
mencoba menjelaskan bagaimana kita orang tua membangun kecerdasan spiritual
anak, agar cita-cata mendapatkan anak saleh dunia akhirat dapat tercapai.
BAB I
MEMBANGUN KECERDASAN SPIRITUAL ANAK
G.
Apa Itu Spiritualitas
Setiap orang tua
tentu mengetahui, keluarga merupakan dunia pertama bagi seorang anak. Dan orang
tua hendaknya juga harus mengetahui bahwa setiap rangsangan yang diterima
seorang anak sejak kecil, yang dilakukan secara sadar dan terarah maupun tidak
sengaja oleh orang tua, akan membawa pengaruh dan arah perkembangan anak dikelak
kemudian hari. Tentu saja tumbuh kembang seorang anak menuju kedewasaan tidak
hanya ditentukan oleh potensi anak, juga dipengaruhi oleh usaha yang dilakukan
orang tua dalam membesarkan dan mendidik serta faktor lingkungan yang lebih
luas dimana anak dibesarkan.
Sedangkan
pengajaran di sekolah dengan sistem pendidikan saat ini lebih menekankan
pada pemikiran kritis yang hanya mengarah pada perkembangan kecerdasan
intelektual melalui pengetahuan, kemampuan analisis dan kemampuan sintetis,
tetapi kurang memberikan perhatian pada kecerdasan emosional dan kecerdasan
spiritual yang amat dibutuhkan anak dalam penyesuaian diri terhadap
lingkungan. Karena itu tidaklah cukup bila orang tua yang mendambakan anak-anaknya menjadi anak
yang sehat, cerdas, bermoral, berbudi pekerti luhur, ceria, mandiri dan kreatif
hanya menyerahkan pendidikan mereka pada
pengajaran di sekolah saja.
Anak membutuhkan
kesempatan yang lebih luas dari itu, seperti bersosialisasi dengan lingkungan
yang lebih luas dan mendapat kegiatan untuk mengungkapkan fantasi serta potensi
kreatifnya. Salah satu caranya adalah dengan membangun kecerdasan spiritual
anak.
Belakangan ini
semakin menjamur kelompok-kelompok studi atau sejenisnya yang menyatakan
kelompoknya sebagai kelompok spiritual. Bahkan kata ’spiritual’ kini sudah
semakin terdengar klise dengan terjadinya pergeseran makna dalam penggunaannya.
Sebagai istilah, ia telah semakin dikacaukan dengan berbagai bentuk kanuragan,
“pengeleakan”, “pengiwe”, praktek pedukunan, praktek medium, cenayang “pepeluasan”,
atau fenomena okultistik lainnya, bahkan sampai-sampai mendekati ketakhyulan.
Ironis memang,
kata spiritual, kini semakin kehilangan spirit-nya. Bukan hanya karena
pergeseran-pergeseran pemaknaan seperti itu, akan tetapi berbagai keterbatasan lahiriah
dan naluriah, kecenderungan-kecenderungan serta pengkondisi-pengkondisi
lainnya, telah menyulitkan kita untuk memahami spirit, sang jiwa, sang roh,
sang Maha Pencipta yang justru merupakan isu utama dunia spiritual.
Apa itu
spiritualitas? Secara etimologi kata spiritualitas berasal dari “sprit”
dan berasal dari kata Latin “spiritus”, yang diantaranya berarti “roh, jiwa,
sukma, kesadaran diri, wujud tak berbadan, nafas hidup, nyawa hidup.” Dalam
perkembangannya, kata spirit diartikan secara lebih luas lagi. Para filosuf,
mengkonotasikan “spirit” dengan;
1.
Kekuatan yang menganimasi dan memberi
energi pada cosmos
2.
Kesadaran yang berkaitan dengan
kemampuan, keinginan, dan intelegensi
3.
Makhluk immaterial
4.
Wujud ideal akal pikiran
(intelektualitas, rasionalitas, moralitas, kesucian atau keilahian).
Dilihat dari
bentuknya, spirit menurut para ahli, paling tidak ada tiga tipe: spirit subyektif, spirit obyektif dan spirit
obsolut. Spirit subyektif berkaitan dengan kesadaran, pikiran, memori, dan
kehendak individu sebagai akibat pengabstraksian diri dalam relasi sosialnya.
Spirit obyektif berkaitan dengan konsep fundamental kebenaran (right,
recht), baik dalam pengertian legal maupun moral. Sementara spirit
obsolut yang dipandang sebagai tingkat tertinggi spirit adalah sebagai bagian
dari nilai seni, agama, dan filsafat.
Secara
psikologik, spirit diartikan sebagai “soul” (ruh), suatu
makhluk yang bersifat nir-bendawi (immaterial being). Spirit juga berarti
makhluk adikodrati yang nir-bendawi. Karena itu dari perspektif psikologik,
spiritualitas juga dikaitkan dengan berbagai realitas alam pikiran dan perasaan
yang bersifat adikodrati, nir-bendawi, dan cenderung “timeless
dan
spaceless”. Termasuk jenis spiritualitas adalah Tuhan, jin, setan,
hantu, roh-halus, nilai-moral, nilai-estetik dan sebagainya. Spiritualitas
agama (religious spirituality, religious spiritualness)
berkenaan dengan kualitas mental (kesadaran), perasaan, moralitas, dan
nilai-nilai luhur lainnya yang bersumber dari ajaran agama. Spiritualitas agama
bersifat Ilahiah, bukan bersifat humanistik lantaran berasal dari Tuhan.
H.
Apa itu Kecerdasan
(Inteligensi)
Kecerdasan
merupakan salah satu anugerah besar dari Allah SWT kepada manusia dan
menjadikannya sebagai salah satu kelebihan manusia dibandingkan dengan makhluk
lainnya. Dengan kecerdasannya, manusia dapat terus menerus mempertahankan dan
meningkatkan kualitas hidupnya yang semakin kompleks, melalui proses berfikir
dan belajar secara terus menerus.
Dalam pandangan
psikologi, sesungguhnya hewan pun diberikan kecerdasan namun dalam kapasitas
yang sangat terbatas. Oleh karena itu untuk mempertahankan keberlangsungan
hidupnya lebih banyak dilakukan secara instingtif (naluriah). Berdasarkan
temuan dalam bidang antropologi, kita mengetahui bahwa jutaan tahun yang lalu
di muka bumi ini pernah hidup makhluk yang dinamakan Dinosaurus
yaitu sejenis hewan yang secara fisik jauh lebih besar dan kuat dibandingkan
dengan manusia. Namun saat ini mereka telah punah dan kita hanya dapat
mengenali mereka dari fosil-fosilnya yang disimpan di musium-musium tertentu.
Boleh jadi, secara langsung maupun tidak langsung, kepunahan mereka salah
satunya disebabkan oleh faktor keterbatasan kecerdasan yang dimilikinya. Dalam
hal ini, sudah sepantasnya manusia bersyukur kepada Allah SWT, meski secara
fisik tidak begitu besar dan kuat, namun berkat kecerdasan yang dimilikinya
hingga saat ini manusia ternyata masih dapat mempertahankan kelangsungan dan
peradaban hidupnya.
Lantas, apa
sesungguhnya kecerdasan itu? Sebenarnya hingga saat ini para ahli pun tampaknya
masih mengalami kesulitan untuk mencari rumusan yang komprehensif tentang
kecerdasan. Dalam hal ini, C.P. Chaplin (1975) memberikan pengertian kecerdasan
sebagai kemampuan menghadapi dan menyesuaikan
diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif.
Sementara itu, Anita E. Woolfolk (1975) mengemukan bahwa menurut teori lama,
kecerdasan meliputi tiga pengertian, yaitu :
1. Kemampuan
untuk belajar
2. Keseluruhan
pengetahuan yang diperoleh; dan
3.
Kemampuan
untuk beradaptasi dengan situasi baru atau lingkungan pada umumnya.
Pada awalnya
kajian tentang kecerdasan hanya sebatas kemampuan individu yang berhubungan
dengan aspek kognitif atau biasa disebut Kecerdasan
Intelektual yang bersifat tunggal, sebagaimana yang dikembangkan oleh
Charles Spearman (1904) dengan teori “Two Factor”-nya, atau
Thurstone (1938) dengan teori “Primary Mental Abilities”.
Dari kajian ini, menghasilkan pengelompokkan kecerdasan manusia yang dinyatakan
dalam bentuk Inteligent
Quotient (IQ), yang dihitung berdasarkan perbandingan antara
tingkat kemampuan mental (mental age) dengan
tingkat usia (chronological age),
merentang mulai dari kemampuan dengan kategori Ideot sampai dengan Genius.
Istilah IQ
mula-mula diperkenalkan oleh Alfred Binet, ahli psikologi dari Perancis pada
awal abad ke-20. Kemudian, Lewis Terman dari Universitas Stanford berusaha
membakukan tes IQ yang dikembangkan oleh Binet dengan mempertimbangkan
norma-norma populasi sehingga selanjutnya dikenal sebagai tes Stanford-Binet.
Pendapat lain
mengatakan kecerdasan (inteligensi) adalah hal-hal yang menunjukkan kemampuan
untuk menerima, memahami dan menggunakan simbol-simbol sehingga mampu
menyelesaikan masalah-masalah yang abstrak, misalnya kecerdasan verbal,
kecerdasan spasial, kecerdasan sosial dan banyak lagi. Kecerdasan verbal
menunjukkan kemampuan untuk mengerti dan menggunakan kata-kata. Kecerdasan
spasial adalah kemampuan mengerti dan menggunakan obyek dalam ruang, sementara
kecerdasan sosial adalah kemampuan untuk mengerti dan menggunakan informasi
sosial.
Kecerdasan (Inteligensi) secara umum dipahami pada dua
tingkat yakni
1.
Kecerdasan sebagai suatu kemampuan
untuk memahami informasi yang membentuk pengetahuan dan kesadaran.
2.
Kecerdasan sebagai kemampuan untuk
memproses informasi sehingga masalah-masalah yang kita hadapi dapat dipecahkan
(problem solved) dan dengan demikian pengetahuan pun bertambah.
Jadi dalam
bahasa yang sederhana dapat dipahami bahwa kecerdasan adalah pemandu bagi kita
untuk mencapai sasaran-sasaran kita secara efektif dan efisien. Dengan kata
lain, orang yang lebih cerdas, akan mampu memilih strategi pencapaian sasaran
yang lebih baik dari orang yang kurang cerdas. Artinya orang yang cerdas mestinya
lebih sukses dari orang yang kurang cerdas.
Tingkat
kecerdasan (Intelegensi) bawaan ditentukan baik oleh bakat bawaan yaitu
berdasarkan gen yang diturunkan dari orang tuanya maupun oleh faktor
lingkungan, ini termasuk semua pengalaman dan pendidikan yang pernah diperoleh
seseorang, terutama tahun-tahun pertama dari kehidupan yang mempunyai dampak
kuat terhadap kecerdasan seseorang.
Secara umum intelegensi dapat dirumuskan sebagai berikut
:
1.
Kemampuan untuk berpikir abstrak.
2.
Kemampuan menangkap hubungan-hubungan
dan untuk belajar.
3.
Kemampuan untuk menyesuaikan diri
terhadap situasi-situasi baru.
Ketiga rumusan
ini menunjukkan aspek yang berbeda dari intelegensi, namun ketiga aspek
tersebut saling berkaitan. Keberhasilan dalam menyesuaikan diri seseorang
tergantung dari kemampuannya untuk berpikir dan belajar. Sejauh mana seseorang
dapat belajar dari pengalaman-pengalamannya akan menentukan penyesuaian
dirinya. Ungkapan-ungkapan pikiran, cara berbicara, cara mengajukan pertanyaan,
kemampuan memecahkan masalah, dan lain sebagainya dapat mencerminkan
kecerdasan. Akan tetapi, diperlukan waktu lama untuk dapat menyimpulkan
kecerdasan seseorang berdasarkan pengamatan perilakunya, dan cara demikian
belum tentu tepat pula.
Meningkatkan
kecerdasan dapat dilakukan melalui proses pendidikan secara menyeluruh termasuk
mereka yang memiliki kelainan fisik atau mental serta mereka yang mengalami
kekurangan beruntungan dibidang sosial atau ekonomi. Kecerdasan bermakna luas.
Robert J. Sternberg (1981), seorang ahli psikologi, mengartikan kecerdasan
sebagai kemampuan untuk:
1.
Belajar, menyesuaikan diri terhadap
lingkungan,
2.
Mengadaptasikan diri terhadap situasi
baru dan
3.
Memanfaatkan pengalaman.
Agaknya sulit
untuk membuat suatu definisi kecerdasan yang dapat mewadai semua sudut pandang
dan semua kepentingan. Dalam konteks pembelajaran, pemahaman atas kecerdasan
yang dimiliki oleh setiap pembelajar sangat diperlukan untuk mengatasi berbagai
masalah pembelajaran seperti apa yang perlu dipelajari dan bagaimana cara
mempelajarinya.
I.
Apa saja Jenis-jenis
Kecerdasan
Lebih lanjut hadir teori baru tentang Multiple Intelligence
yang menyatakan bahwa setiap anak memiliki beberapa potensi kecerdasan.
Kegiatan pendidikan anak usia dini hendaknya memperhatikan kecerdasan atau
potensi dalam diri anak tersebut ketika anak sedang belajar tentang dunianya.
Setiap kecerdasan dapat dirangsang dengan cara yang berbeda.
Gardner menggunakan kata kecerdasan (intelligence)
sebagai pengganti kata bakat. Ada sembilan kecerdasan yang diidentifikasi oleh Gardner
yang disebut dengan kecerdasan majemuk (multiple intelligences), yaitu:
1.
Kecerdasan Metematis (Logical Mathematical Intelligence).
Kecerdasan
ini merupakan suatu kemampuan untuk mendeteksi pola, berfikir deduktif, dan
berfikir logis. Kemampuan ini sering diasosiasikan dengan berfikir secara
ilmiah dan matematis.
Kecerdasan
logis-matematis terlihat dari ketertarikan anak mengolah hal-hal yang
berhubungan dengan matematika dan peristiwa ilmiah. Bedanya dengan kecerdasan
lain, kecerdasan ini mempunyai suatu komponen khas, yakni sebagai kepekaan dan
kemampuan untuk membedakan pola logika atau numerik, dan kemampuan menangani
rangkaian penalaran yang panjang. Ciri-ciri anak yang mempunyai kecerdasan ini
adalah ketika anak berusia 2-4 tahun senang sekali menghitung benda-benda di
sekelilingnya. Bagi anak tersebut, lingkungan bisa dijadikan sebagai sarana
untuk belajar, misalnya dengan menghitung jumlah kuntum bunga di sebuah cabang
pohon di depan rumah.
Anak
dengan kecerdasan Logis-Matematis biasanya pandai dalam sains dan matematika.
Adapun ciri-cirinya adalah:
§ Menyukai hal-hal yang berhubungan
dengan angka dan menghitung
§ Suka mencatat secara teratur
§ Senang menganalisa
Cara
membangkitkan kecerdasan ini:
§
Dorong ia mencari solusi atau
memecahkan masalah
§
Biarkan segala sesuatu diselesaikan
secara bertahap
§ Coba eksperimen praktis
2.
Kecerdasan Bahasa (Linguistic Intelligence).
Kecerdasan
Bahasa adalah kecerdasan untuk menguasai hal-hal yang berkaitan dengan bahasa. Kamampuan ini
termasuk kemampuan memanipulasi bahasa untuk mengekspresikan diri mereka secara
retoris. Ciri-cirinya
adalah:
§
Menaruh minat pada orang yang
berbicara dengannya di usia 3 bulan
§
Mengucapkan kata ma, pa pada usia
sekitar 6 bulan
§
Mampu mengikuti perintah sederhana
pada usia 6 bulan, misalnya: “Ayo, tunjukkan mana hidungmu pada Mama.”
§
Punya lebih dari 200 pependaharaan
kata di usia 1 tahun
§
Menggunakan 2 kata kombinasi yang
diucapkan dengan jelas seperti: “Mau minum” di usia 1 tahun dn kalimat
pendek pada usia 3 tahun.
§
Orang tua mengerti apa yang
dibicarakan anaknya pada usia 2 tahun dengan artikulasi yang jelas.
§ Pada usia 4 tahun, anak sudah mampu
membuat kalimat lengkap dengan penempatan subjek, predikat, dan objek yang
sempurna.
§
Pada usia 5 tahun, anak mampu
merangkai cerita sederhana, bahkan beberapa anak mampu menuliskannya.
§
Pada usia 6 tahun, biasanya anak
menyenangi kegiatan yang berkaitan dengan penggunaan bahasa seperti membaca,
menulis karangan, membuat puisi, menyusun kata-kata mutiara dan sebagainya.
Anak-anak seperti ini juga cenderung memiliki daya ingat yang kuat dan
mempunyai argumentasi yang menonjol.
§
Anak dengan kecerdasan linguistic,
sangat andai dalam mengolah kata-kata
§ Menyenangi cerita-cerita
§ Senang membaca dan menulis
§
Mudah mengungkapkan perasaan dengan
kata-kata, baik lisan maupun tulisan
§ Punya ingatan tajam tentang hal-hal
sepele
Cara
membangkitkan kecerdasan ini:
§ Minta ia menceritakan hal-hal yang
diketahuinya
§ Melakukan permainan kosa kata
§ Libatkan ia dalam menempel, memasang
dan melipat kertas
§ Ajak ia berdiskusi
3.
Kecerdasan Ruang (Spatial Intelligence).
Anak
dengan kecerdasan spatial atau ruang cenderung berfikir secara visual, kaya
dengan kahyalan internal sehingga cenderung imajinatif dan kreatif. Mereka mampu
memanipulasi dan menciptakan gambar di dalam fikiran mereka. Ciri-cirinya antara lain:
§ Sangat senang bermain dengan bentuk
dan ruang (rancang bangun), seperti puzzle dan balok.
§ Hafal sekali jalan yang pernah
dilewati. Ia akan protes kalau jalan yang dilewatinya berbeda. Tak jarang, ia
memandu pengemudi untuk melalui jalan yang dikenalnya.
§
Tidak banyak bicara, melainkan lebih aktif mengerjakan
hal-hal yang berkaitan dengan abstraksi ruang seperti mencoret-coret, mewarnai,
bermain puzzle, menyusun balok, dan sebagainya. Kegiatan ini
jauh lebih diminati anak dibandingkan dengan minat verbalnya.
§
Memiliki problem solving yang lebih
baik dibandingkan anak lain karena dia bisa membayangkan apa yang akan terjadi
setelahnya.
§
Senang mengukur-ukur mana yang lebih
panjang dan pendek, besar dan kecil, atau jauh dan dekat dengan alat-alat
sederhana yang ditemukannya di rumah atau dengan anggota tubuhnya sendiri
seperti menjengkal atau melangkah.
§
Bisa menangkap perkiraan atau jarak.
Jika berlari, ia bisa mengantisipasi diri dengan ruang hingga tak menabrak.
§
Memiliki perhatian yang tinggi
terhadap detail, seperti gradasi atau ukuran yang sedikit berbeda, misal dua
benda yang sama persis hanya beda sekian milimeter.
§
Pandai mempersepsi apa yang dia lihat
§
Mudah membaca peta, grafik dan
diagram
§ Suka seni; menggambar, melukis dan
memahat
§ Menyukai bacaan yang penuh
gambar-gambar berwarna
§ Senang merekam peristiwa/kejadian
dengan video kamera
Cara
membangkitkan kecerdasan ini:
§ Gunakan gambar dalam belajar
§ Buat coretan/simbol-simbol untuk
melambangkan sesuatu
§ Ajarkan ia peta pikiran
4.
Kecerdasn Musikal (Musical Intelligence).
Anak dengan kecerdasan musical memiliki ciri-ciri:
§ Mudah mengenali dan menyanyikan
nada-nada.
§ Dapat mentranspormasikan kata-kata
menjadi lagu dan menciptakan berbagai permainan musik.
§ Peka terhadap ritme, ketukan, melodi,
atau warna suara dalam sebuah komposisi musik.
§ Terlihat menikmati saat bermain
musik, suka bersenandung atau bernyanyi
§ Sangat suka mendengarkan lagu dan
musik, bahkan kesedihan akan berkurang dikala mendengarkan lagu atau musik.
§ Dapat menyebutkan dengan tepat kunci
nada saat mendengarkan musik.
§ Memiliki suara yang merdu.
§ Mampu mengingat syair dengan baik.
5.
Kecerdasan Gerak (Bodly-kinesthetic Intelligence).
Anak
yang kecnderungan senang bergerak dan menyentuh. Mereka memilki kontrol pada
gerakan, keseimbangan, ketangkasan, dan keanggunan dalam bergerak
Karakteristik
anak yang cerdas secara kinestetik dapat diamati dengan mudah. Anak sangat
senang bergerak seperti berlari, berjalan, melompat, dan sebagainya di ruangan
yang bebas. Meski terkadang jatuh, tapi keadaan ini masih normal bila anak
berusia di bawah tiga tahun. Jangan batasi geraknya, karena memang fisiknya
sedang berkembang. Namun orang tua harus menjaganya agar tidak terjatuh.
Selain
itu anak yang cerdas kinestetik pada usia balita juga mampu melempar benda
secara terarah kira-kira sejauh satu meter, senang memanjat benda yang tinggi,
bermain di air, dan naik turun tangga. Anak mampu melompat dengan dua kaki
seperti lompat kodok. Kemampuan ini memerlukan keseimbangan tubuh dan biasanya
dikuasai anak usia 4-5 tahun. Ketika lagu diputar, tubuhnya bergerak harmonis
mengikuti irama musik. Senang aktivitas pura-pura (role playing) misalnya,
pura-pura jadi kodok, bebek, menirukan orang menyetir mobil, atau memasak.
Tidak menyukai duduk dalam waktu yang lama. Ciri lainnya, anak dapat melepaskan
kaos, celana, dan kaos kaki sendiri. Juga bisa membangun jembatan dengan
menggunakan balok-balok tanpa terjatuh. Aktivitas ini melibatkan keterampilan
motorik halus, koordinasi visual motorik, dan keseimbangan.
Ciri-cirinya adalah:
§ Terlihat tidak bisa diam, selalu
ingin melakukan sesuatu, bergerak-gerak aktif ketika duduk. Deteksi ini bisa
terlihat sejak bayi.
§ Senang kegiatan fisik, seperti melompat-lompat,
olah raga atau permainan fisik, semisal kejar-kejaran, bersepeda,
gulat-gulatan, dan sebagainya.
§ Anak perlu menyentuh objek yang
sedang dipelajari. Misal, guru menerangkan dengan alat peraga. Nah, si body
smart biasanya akan maju ke depan karena ingin menyentuh alat peraga
tersebut.
§ Terampil mengerjakan kerajinan tangan
seperti menjahit, membuat bentuk-bentuk dari lilin mainan, dan sebagainya.
§ Suka dan bisa menirukan
perilaku/gerakan orang lain dengan baik, misalnya meskipun hanya sekali
menyaksikan artis berlenggak-lenggok di layar kaca, anak sudah bisa
menirukannya.
§ Suka bekerja dengan tanah liat,
melukis dengan tangan atau bekerja dengan menggunakan anggota tubuh lainnya.
§ Suka mengutak-atik benda yang menarik
baginya. Umpama, membongkar pasang mainan. Orang tua yang kurang berpendidikan
akan menganggap anak ini nakal karena suka merusak mainannya.
§ Senang berolah raga
§ Resah jika tak melakukan apa-apa
§ Menyukai pelajaran olah raga
§ Belajar paling efektif dengan
bergerak
Cara
membangkitkan kecerdasan ini:
§ Ajak ia bermain peran
§ Gunakan gerak untuk belajar
§
Padukan gerak dengan semua mata
pelajaran
6.
Kecerdasan alam (Naturalist Intelligence).
Anak dengan kecerdasan musical memiliki ciri-ciri:
§ Memiliki ketertarikan yang besar
terhadap alam sekitar. Mereka menyukai benda-benda dan cerita yang berkaitan
dengan peristiwa alam, misalnya terjadinya awan dan hujan, asal usul binatang,
pertumbuhan tanaman hingga tatasurya.
§ Sangat tertarik dengan berbagai
kegiatan yang dilakukan di luar rumah. Begitu juga dengan sistem pembelajaran
di sekolah, dia lebih menyenangi aktifitas belajar yang dilakukan di luar
ruangan atau kelas dengan mengobservasi alam.
§ Senang bermain di taman, kebun, serta
akrab dengan berbagai binatang peliharaan seperti kucing, kelinci, anjing dan
sebagainya.
§ Sering mempertanyakan berbagai gejala
alam, entah itu mengenahi gempa, tsunami, dan sebagainya.
§ Menyukai aktifitas berkemah, hiking,
memancing, dan kegiatan rekreasi lain yang berhubungan dengan alam, seperti
pantai, laut, hutan, dan sebagainya.
§
Senang mengoleksi berbagai benda dari
alam, seperti kerang-kerangan, batu-batuan, dan sebagainya.
7.
Kecerdasan interpersonal (interpersonal Intelligence).
Kemampuan
untuk menjalin relasi social dengan orang lain. Anak dengan kecerdasan ini
mampu mengetahui dan mengunakan beragam cara pada saat berinteraksi, sehingga
tidak mengalami kesulitan untuk bekerja sama dengan orang lain. Mereka memiliki
empati, toleransi sehingga dapat merasakan perasaan, pikiran, tingkah laku, dan
harapan orang lain.
Kecerdasan interpersonal datang dari kemampuannya sendiri
karena adanya kesadaran yang kuat. Ini dimanakan juga sebagai kecerdasan
social. Adapun ciri-ciri selengkapnya adalah:
§
Memiliki Empati. Anak memiliki
kemampuan memahami peasaan orang lain. Dia begitu peka dengan situasi dan
kondisi yang ada dan tahu tindakan dan sikap yang harus dilakukan pada
masing-masing kondisi, misalnya saat temannya sedih karena kehilangan boneka,
dia berusaha menghiburnya dengan meminjamkan boneka miliknya.
§ Bersikap Asertif. Saat orang lain
mencoba merampas haknya, dia tahu apa yang harus dilakukan. Dia bisa
mengemukakan kepentingan dan hak-haknya tanpa merugikan orang lain, I am OK you
are OK. Anak tidak pasif dengan selalu mengalah, tapi dia juga menjauhkan sikap
egois yang menempatkan semua keinginannya di tingkat tertinggi. Dia bisa
bertindak di antara ke dua sifat tersebut. Saat mobil mainannya direbut, dia
tidak diam atau menangis tetapi juga tidak langsung memukul si perebut,
melainkan berkata: “Jangan ambil mainanku sembarangan. Kamu boleh
memainkannya setelah aku.”
§
Bisa Bekerja Sama.
Anak bisa mengetahui dengan jelas mana yang menjadi tugasnya dan mana tugas
orang lain. Dia juga tak punya masalah hubungan dengan masing-masing anggota
kelompok. Tak jarang, kemampuannya bekerja sama membuat anak dipercaya memimpin
kelompok tersebut. Jiwa kepemimpinannya memang terlihat jelas. Inisiatifnya
mengambil keputusan sangatlah baik. Setelah memahami tugas yang di embannya,
dia bisa mengatur dan mengendalikan teman-temannya untuk mencapai suatu tujuan.
Seperti dalam
permainan sepak bola, dia mampu mengatur para pemainnya agar memenangkan
pertandingan. Anak dengan kecerdasan ini mampu menempatkan sesorang dalam
posisi yang tepat, misalnya saat diberi tugas mendirikan tenda di perkemahan,
dia bisa mengatur siapa yang memasang tali, menancapkan pondasi, memasang
tiang, dan sebagainya.
§ Mediator dalam
Konflik. Jiwa kepemimpinan yang dimiliki membuat anak lihai dalam menyelesaikan
konflik antar teman. Terlebih jika anak mengenal dengan jelas kedua belah pihak
yang bertentangan. Dengan kemampuan komunikasinya yang baik, dia bisa mengajak
keduanya untuk menyelesaikan masalah dengan keputusan saling menguntungkan.
§ Gampang Berteman. Fleksibel, mudah
bergaul, dan tidak pilih-pilih teman. Dia tidak alergi pada teman atau orang
baru. Bahkan tak jarang, dia menganggap sosok yang baru dikenalnya tersebut
sebagai teman lama.
8.
Kecerdasan intrapersonal (Intrapersonal Intelligence).
Anak
yang meiliki pemahaman dan kendali yang baik mengenai diri sendiri. Mereka tahu
apa yang didapat dan tidak dapat dilakukannya dalam lingkaran social.
Kecerdasan
intrapersonal merupakan kecerdasan yang dimiliki individu untuk mampu memahami
dirinya. Secara lebih sempit dapat diartikan merupakan kemampuan anak untuk
mengenal dan mengindentifikasi emosi, juga keinginannya. Selain itu anak juga
mampu memikirkan tindakan yang sebaiknya dilakukan dan memotivasi dirinya
sendiri. Meskipun anak dengan karakter ini dapat mengintropeksi
diri serta memperbaiki kekurangannya. Namun kadarnya dapat berbeda-beda. Anak
dengan cerdas diri dapat mengekspresikan perasaannya secara verbal juga melalui
bahasa tubuh.
Selain
itu, anak dengan kecerdasan intrapersonal juga sering mengevaluasi suatu
kejadian yang lalu. Anak memiliki kemampuan yang baik untuk mengolah informasi
dari luar dan dalam pikirannya. Karena anak cerdas intrapersonal suka
mengintropeksi dan berpikir, maka terlihat menyendiri dan pendiam
Penting
diperhatikan, kecerdasan intrapersonal harus dibarengi pula dengan kecerdasan
interpersonal. Biasanya, dalam kehidupan sehari-hari, misalnya di sekolah,
anak-anak yang mempunyai kecerdasan intrapersonal terlalu menonjol, kesannya
sulit diarahkan. Ini disebabkan, mereka memiliki prinsip diri yang kokoh.
Mereka juga sangat keras kemauannya, sehinggga kalau sudah punya argumen atau
pendapat, orang lain sering kali susah untuk mematahkannya.
Tidak
heran di mata teman-temannya dia terkesan egois, mau menang sendiri, agak sulit
bekerja sama dengan orang lain, ingin selalu dipahami dan bukan memahami, juga
penampilannya sering kali eksentrik. Mereka juga terkesan tak butuh teman. Jika
orang lain membencinya, mereka tak akan merasa sedih, kecewa, apalagi sampai
meninggalkan keyakinannya hanya untuk bisa diterima bergabung dengan orang
lain. Sebagian besar dari anak-anak ini juga mempunyai pribadi yang tertutup.
Maksudnya, jika mereka mempunyai hobi, pendapat atau sesuatu hal, mereka tak
pernah bicara kepada orang lain, kecuali pada segelintir teman dekat yang
sangat dipercayainya. Itulah mengapa, anak-anak yang cerdas diri ini harus juga
cerdas sosial, sehingga mereka bisa sensitif terhadap perasaan orang lain atau
lingkungan sekitarnya.
9.
Kecerdasan spritual (Spritual Intelligence)
Kecerdasan
spritual (spritual intelligence) adalah kemampuan mengenal dan mencintai
ciptaan Tuhan. Kemampuan ini dapat dirangsang melalui penanaman
nilai-nilai moral dan agama.
Ciri anak yang memiliki kecerdasan spiritual yang
menonjol adalah baik pada sesama dan rajin menjalankan ibadah agamanya.
Biasanya ini terlihat saat dia berinteraksi dengan sesama dan lingkungannya,
sikapnya ramah dan baik pada siapa pun, tidak pernah membuka aib (kejelekan,
kekurangan, dan kekhilafan) orang lain, dan mampu menangkap esensi dari agama
yang dia anut.
J.
Kecerdasan Spiritual
Sudah tertanam
anggapan umum pada masyarakat bahwa anak yang cerdas adalah anak yang memiliki
kemampuan nilai eksakta yang bagus, dan sebaliknya. Anak cerdas adalah anak
yang bisa diterima di jurusan IPA bukan IPS atau bahasa. Wajar jika sebagian
besar orang tua cemas bila anaknya kurang pandai dalam matematika, fisika, atau
pelajaran lainnya. Dan anak-anakpun merasa malu dan rendah diri terhadap
teman-teman dan lingkungannya ketika jurusan mereka bukan jurusan IPA tapi IPS
atau bahasa. Mereka merasa dinomor duakan dalam berinteraksi baik oleh guru,
teman, bahkan orang tuanya.
Padahal
kecerdasan tidak hanya terbatas pada intelektual, dikenal juga kecerdasan
emosional (emotional intelligence) dan kecerdasan
spiritual (spiritual intelligence). Tidak ada jaminan
orang yang cerdas secara intelektual akan juga cerdas secara emosional dan
spiritual. Idealnya dalam diri seseorang, ketiga kecerdasan ini harus ada.
Dengan kecerdasan intektual orang akan sukses dalam pendidikan, dengan kecerdasan emosional membuat orang lebih mudah mencapai sukses
dalam hidup dan untuk menyempurnakannya dengan menemukan kebahagiaan dan makna
dari kehidupan, diperlukan kecerdasan spiritual. Bahkan sebahagian orang justru
meyakini kecerdasan spiritual sebagai kecerdasan yang paling utama dibandingkan
dengan berbagai jenis kecerdasan yang lain.
Kecerdasan
spiritual (Spiritual Intelligence) diartikan juga oleh sebahagian orang
sebagai kecerdasan manusia dalam memberi makna. Dalam kondisi yang sangat buruk
dan tidak diharapkan, kecerdasan spiritual mampu menuntun manusia untuk
menemukan makna. Manusia dapat memberi makna melalui berbagai macam keyakinan.
Karena manusia dapat merasa memiliki makna dari berbagai hal, agama (religi)
mengarahkan manusia untuk mencari makna dengan pandangan yang lebih jauh.
Bermakna di hadapan Tuhan. Inilah makna sejati yang diarahkan oleh agama,
karena sumber makna selain Tuhan tidaklah kekal.
Ada kesan yang
salah bahwa, para orang sukses bukanlah orang yang relijius. Hal ini disebabkan
pemberitaan tentang para koruptor, penipu, konglomerat rakus, yang memiliki
kekayaan dengan jalan tidak halal. Karena orang-orang jahat ini tampak kaya,
maka sebagian publik mendapat gambaran bahwa orang kaya adalah orang jahat dan
rakus, para penindas orang miskin. Sebenarnya sama saja, banyak orang miskin
yang juga jahat dan rakus. Jahat dan rakus tidak ada hubungan dengan kaya atau
miskin. Para orang sukses sejati, yang mendapatkan kekayaan dengan jalan halal,
ternyata banyak yang sangat relijius. Mereka menyumbangkan hartanya di jalan
amal. Mereka mendirikan rumah sakit, panti asuhan, riset kanker, dan berbagai
yayasan amal. Dan kebanyakan dari mereka menghindari publikasi.
Sejak manusia
ini ada sampai sekarang ini, pengetahuan manusia tentang dririnya belum lengkap
sehingga difinisi tentang manusia itu beraneka ragam dan berkembang terus.
Perkembangan itu selaras dengan perkembangan sudut pandang serta pengetahuan
tentang manusia itu sendiri. Plato, misalnya, memandang manusia sebagai
kesatuan pikiran, kehendak, dan nafsu-nafsu.
K.
Kecerdasan Atas Dasar Spiritualitas Menurut
Para Pakar
Ada dua pendapat
seputar kecerdasan spritual yang selama ini ada dalam masyarakat. Salah satunya
yang mengidientikkan nilai-nilai spritual dengan moralitas dan agama. Dilain
pihak ada juga pendapat yang menganggap bahwa kecerdasan spiritual itu tidak
sama dengan moralitas dan keagamaan. Dalam nilai agama, banyak orang yang hanya
berpikir bagaimana caranya masuk surga tanpa memperdulikan orang lain. Ini
berarti seseorang bisa saja sangat relijius tetapi tidak memiliki kecerdasan
spiritual yang tinggi. Karena yang disebut kecerdasan spiritual itu awalnya
adalah dalam diri manusia itu bagaimana seseorang melihat dan memaknai
hubungannya dengan pihak lain.
Pandangan
kecerdasan spiritual yang sesungguhnya, dapat dijadikan alat untuk bisa membagi
dan mengkategorikan tipologi manusia yaitu: Pertama, Conventional Type,
yang lebih mengarah pada nurani manusia. Seseorang akan merasa hidup itu lebih
pada menjalankan kewajiban-kewajibannya. Kedua, Social Type, lebih ke
arah bahwa manusia itu akan merasa hidup memiliki nilai jika dia bisa bergaul
dan memiliki teman yang banyak. Ketiga, Investigative Type, lebih ke
arah ketika seseorang melihat sesuatu dan membuat cara berpikirnya adalah harus
lebih tahu dan menggali lebih dalam lagi. Keempat, Artistic Type, itu
lebih ke arah sisi musik, seni, sastra. Kelima, Realistic Type, tipe ini
lebih pragmatis artinya seseorang bisa berpikir dalam kondisi tertentu apa yang
harus dilakukan. Keenam, Enterprising Type, seseorang dalam tipe ini
biasanya punya aspek untuk mengambil suatu resiko, kemampuan untuk lebih
melihat bahwa hidup adalah suatu permainan dan dia akan mau mengambiI resiko.
Disitulah
kecerdasan spiritual dianggap penting dan menjadi pondasi dasar dan bagaimana
seseorang melihat hidup. Kecerdasan spiritual lebih ke arah nurani seseorang.
Dengan kata lain kecerdasan spiritual lebih ke arah perkembangan diri pribadi
dalam artian keseluruhan.
Pada prinsipnya
kecerdasan spiritual sudah ada di diri manusia tapi masih bisa dikembangkan
seperti halnya bakat. Jadi hal ini merupakan bagian dari proses pembelajaran.
Karena tidak boleh melihat manusia itu sebagai satu dimensi, tapi multi dimensi
dan kecerdasan spiritual adalah bagian dari dimensi lainnya manusia. Kecerdasan
spiritual itu membantu membentuk manusia secara keseluruhan.
Untuk mengukur
kecerdasan spiritual, tidak bisa dilakukan dengan cara yang dilakukan untuk
mengukur kecerdasan intelektual. " Jadi untuk mendalami kecerdasan
spiritual itu paling baik melalui tehnik interview, misalnya menanyakan pada
kondisi tertentu seseorang akan melakukan apa. Jika secara kuantitatif,
meskipun sudah banyak alat yang dikembangkan, akan mungkin banyak hal yang
terlewatkan. Kecerdasan spiritual baru bisa terlihat dalam kondisi orang
tersebut harus bertindak.
Kecerdasan spritual yang sepeti ini dipopulerkan oleh
dadah Zohar dan Ian Marshall. Mereka membuktikan bahwa aspek spiritual manusia
adalah sesuatu yang kurang lebih bersifat kodrati. Ia bahkan mendasari gerak
perubahan individu dan kebudayaan dari zaman ke zaman. Pemikiran mereka
bertolak dari ''penemuan'' ukuran kecerdasan yang disebut SQ (spiritual
quotient atau spiritual intelligence, kecerdasan spiritual). Selama ini kita
hanya mengenal ukuran kecerdasan yang disebut IQ (intelligence quotient,
kecerdasan intelektual), dan belakangan-sejak pertengahan tahun 1990-an yang
dipopulerkan oleh Daniel Goleman-kita mengenal EQ (emotional quotient,
kecerdasan emosional).
Kecerdasan spiritual ini adalah kecerdasan tertinggi yang
memiliki daya ubah yang amat tinggi sehingga dapat mengeluarkan manusia dari
situasi keterkungkungannya. Kecerdasan spiritual memungkinkan manusia menjadi
kreatif mengubah aturan dan situasi dalam suatu medan tak terbatas.
Ada beberapa bukti ilmiah keberadaan SQ yang dikemukakan
Zohar dan Marshall, di antaranya adalah penelitian neuropsikolog Michael
Persinger di awal tahun 1990-an, dan lebih mutakhir lagi tahun 1997 oleh ahli
saraf VS Ramachandran bersama timnya dari Universitas California, yang
menemukan adanya God spot ("titik Tuhan") dalam otak manusia.
"Titik Tuhan" ini memang tidak membuktikan
keberadaan Tuhan, tetapi menunjukkan kecenderungan otak manusia yang berkembang
ke arah pencarian agenda-agenda fundamental dalam hidup, seperti rasa memiliki,
masalah makna, dan nilai kehidupan. Bukti lainnya dikutip dari penelitian
neurolog Austria, Wolf Singer, pada tahun 1990-an tentang "problem
ikatan" the binding problem yang menunjukkan adanya proses saraf dalam
otak manusia yang mengarah pada usaha mempersatukan dan memberi makna dalam
pengalaman hidup kita.
Paradigma baru SQ ini menawarkan suatu cara pandang yang
lebih luas dan utuh integral dan holistik terhadap sosok manusia.
Bila selama ini tingkat IQ begitu diperhatikan sehingga tak jarang dijadikan
sebagai modal awal kesuksesan hidup, maka SQ menggeser itu semua dalam suatu
definisi yang sama sekali baru.
SQ kemudian merupakan suatu cara berpikir yang bersifat unitif
atau menyatukan dengan kemampuan membingkai ulang segala persoalan dan mengontekstualisasikan semua pengalaman hidup
manusia. SQ berusaha mengundang manusia pada puncak ketinggian untuk melihat
segala persoalan hidup dari perspektif keseluruhan yang lebih luas, lebih
tinggi, dan lebih dalam. SQ menghidupkan semangat bahwa manusia tidak saja
hidup dalam dunia, tetapi adalah bagian utuh dunia, sehingga setiap jengkal
langkah manusia adalah bagian dari proses universal yang lebih besar.
Pada titik inilah kesadaran diri menjadi salah satu
kriteria tertinggi dari kecerdasan spiritual yang tinggi. Kesadaran diri
penting bagi tiap individu untuk mengembangkan dan merumuskan motif hidup
bermakna, motif mencapai keutuhan, dan dalam menjalani proses perubahan yang
tiada henti. Kesadaran diri juga penting untuk menggali dan menjelajahi potensi
spiritual yang dimiliki tiap manusia sehingga akhirnya dapat mengantarkan pada
definisi motivasi dan tujuan hidup yang utuh.
Pemikiran yang menyajikan tentang kecerdasan spiritual
menjadi penting diapresiasi ketika dilihat dari perspektif paradigmatik yang
ditawarkan. Pada aras paradigmatik, pemikiran tersebut menghadirkan suatu cara
pandang baru terhadap kecerdasan dan struktur psikologis manusia dan
membuktikan bahwa ada semacam kodrat spiritual yang melekat dalam diri manusia
yang penting untuk dikelola, karena di situlah sebenarnya napas kehidupan dapat
ditemukan.
Agama sebagai salah satu corong spiritualitas belakangan
ini nyaris dikebiri, dan hanya untuk kepentingan kelompok serta kekuasaan,
sehingga malah melahirkan kekerasan. Oleh karena itu, perspektif baru tentang
kecerdasan spiritual ini pada akhirnya juga mendorong segenap umat beragama
untuk bersikap lebih cerdas dan dewasa terhadap spiritualitas agamanya
masing-masing dengan bersikap yang terbuka, toleran, inklusif, serta jujur dan
tulus. Dengan demikian, perspektif kecerdasan spiritual ini sebenarnya juga
dapat mempertemukan berbagai tradisi keagamaan dalam suatu wilayah dialog yang
lebih terbuka.
Pendapat danah Zohar dan Ian Masshall inilah yang berulang-ulang
kali menyebutkan ketiadaan hubungan antara pemikiran tentang kecerdasan
spiritual ini dengan agama. Pandangan ini adalah pandangan yang khas Barat
yang, katakanlah, "sekuler". Dan banyak pakar yang mengatakan bahwa
pemikiran mereka mirip dengan seri buku psikologi populer yang penuh dengan
janji-janji dan penerapan praktis untuk meningkatkan dan memanfaatkan
kecerdasan spiritual itu sendiri, akan tetapi pemikiran mereka sangat layak
didiskusikan untuk mencermati arah baru perkembangan dunia psikologi yang
seperti mulai saling menyapa dengan tradisi spiritual atau agama. Perjumpaan epistemologis
ini diharapkan dapat menjadi suatu modal awal yang baik untuk arah pembangunan
masa depan umat manusia di seluruh dunia yang damai dan sejahtera.
Selain pendapat
di atas ada juga yang berpendapat bahwa Kecerdasan spiritual atau SQ, tak lepas
kaitannya dengan Yang Maha Kuasa. Segala tindak tanduk manusia di muka bumi
ini, selalu berkaitan dengan Yang Di Atas. Dalam SQ, kejujuran adalah kunci
utama seseorang baik dalam pergaulan maupun dalam pekerjaan.
Manusia memang
makhluk yang penuh dengan liku-liku misteri dan sulit dapat dipahami secara utuh, termasuk jenis
kecerdasan yang dimilikinya. Penelitian tentang manusia berkembang terus dan
mungkin tidak pernah tuntas dan berakhir. Lebih dari dua ribu tahun yang lalu,
Plato mengatakan: Kemampuan memahami hakikat manusia yang berasal dari roh dan
hidup menjadi bagian dari alam semesta, serta akan kembali kepenciptanya, hal
inilah yang disebut SQ Atau kecerdasan spiritual
Kesengsaraan
manusia pada dasarnya disebabkan kebodohan yang berakar pada ketidakmampuan
manusia itu sendiri mengenali dirinya. Sampai sekarangpun kemampuan manusia
mengenali dirinya itu masih terbatas. Pengenalan diri yang dimaksud tidak hanya
secara fisik, tetapi memahmi hakikat diri manusia itu seutuhnya. Oeh karena
itu, para ahli terus menerus berupaya memahami potensi diri yang ada pada
manusia. Keingintahuan yang lebih mendasar dan filosofis tentang manusia
memotivasi para hali untuk melakukan penelitian-penelitian lebih lanjut.
Kecerdasan
spritual merupakan penggerak dalam menggunakan jenis-jenis kecerdasan lain
secara sendiri-sendiri atau secara bersamaan. Hasil penelitian itu diperkuat
oleh Michael Persinger, ahli Psikologi saraf dan riset terakhir (1997) oleh
V.S. Ramachandran, ahli syaraf, dan timnya dari Universitas California.
Penelitian terakhir ini menemukan adanya God-Spot dalam otak manusia
yang merupakan pusat spiritual yang terletak antara jaringan syaraf otak.
SQ juga
merupakan kemampuan menyikapi dan memperlakukan orang lain seperti diri sendiri
dan motivasi yang mendasari setiap perbuatan dilakukan tidak semata-mata
kepentingan diri sendiri, tetapi lebih memperhatikan kepentingan orang banyak
dengan dasar kesetaraan sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan.
Manjadi cerdas
secara spiritual berarti kita mampu memahami diri kita sendiri, siapa kita
sebenarnya, dari mana asal kita, kemana kita akan pergi (tujuan hidup kita).
Sebagai makhluk spiritual dan juga merupakan bagian dari alam semesta, manusia
memiliki sifat-sifat yang murni atau bersih, suci, kasih, bijaksana, ikhlas,
serta sifa-sifat ilahi lainnya. SQ juga kesadaran hati yang paling bening dan
jernih sehingga dapat mengenali dan menemukan kebenaran yang murni dan sejati.
Kebenaran itu tidak hanya dilihat dari mata manusia, tetapi juga dari mata
Tuhan, pencipatanya.
Terlepas dari
pendapat para pakar dunia barat, dalam islam Allah menjelaskan dalam Al-Qur’an:
“Kitab
(Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,
(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan
menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka
yang beriman kepada Kitab (Al Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu dan
Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya
(kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan
mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung”. (Al Quran Al Karim Surah
Al Baqarah ayat 1 – 5)
Danah Zohar dan Ian Marshall jelas-jelas mengatakan
bahwa SQ bukanlah bagian dari Agama. “SQ tidak mesti berhubungan dengan agama.
Bagi sebagian orang SQ merupakan cara pengungkapan melalui agama formal, tetapi
beragama tidak menjamin SQ tinggi. Banyak orang humanis dan atheis memiliki SQ
sangat tinggi, sebaliknya banyak orang yang aktif beragama memiliki SQ sangat
rendah.”
Kita juga tidak bias menafikan bahwa sangat banyak
orang yang berlindung dibalik kalimat “agama-agama Timur”, begitu juga dengan
buku-buku SQ yang cenderung mengeneralisir semua agama, apakah itu agama samawi
maupun ardi. Akan tetapi ada sebuah usaha yang sangat luar biasa yang
dikemukakan oleh Ary Ginanjar Agustian. Bahwa spritualitas diekstraksi dari
Rukun Islam dan Rukun Iman.
Banyak orang yang latah dlam mengunakan terminology
kecerdasan spiritual, padahal konsepnya sendiri masih terus dipertentangkan.
Dipertentangkan sebagaimana layaknya konsep-konsep lain yang “mencari-cari
bentuk” agar bisa diterima berbagai kalangan, mencari-cari bentuk agar bisa
melakukan “lintas kepercayaan dan agama”.
Sebuah analogi sederhana
kitika kita ditanya tentang alasan berpuasa di bulan Ramadhan? Jawaban yang
muncul mungkin beragam seperti: Agar
Spiritual saya jadi cerdas dan ada juga jawaban agar mencapai ketaqwaan kepada
Allah.
Jika jawaban anda adalah yang pertama maka siapa
saja, agama apa saja, boleh dan bisa melakukan puasa, tanpa konsekuensi lain
apapun. Tapi jika jawaban anda yang kedua maka banyak konsekuensi lain yang
kemudian harus anda terima. Diantaranya adalah konsekuensi Al Baqarah 1- 5
tadi, bahwa selain berpuasa anda juga harus beriman kepada Allah, Malaikat,
Kitab Allah, Rasul-rasulNya, Hari Kiamat, melaksanakan sholat, menunaikan zakat
Jika anda hanya berpuasa saja, maka itu tidaklah lengkap.
Konsekuensi lain yang bisa kita paparkan juga
adalah, bahwa panggilan untuk melaksanakan puasa Ramadhan adalah panggilan
kepada Iman:
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu
berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu
bertakwa, (Al Quran Al Karim Surah Al Baqarah ayat 183)
Panggilan
tersebut memberikan konsekuensi lain tentang definisi orang yang beriman. Kita
rujuk kemudian ke Al Quran Al Karim:
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,
(yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan orang-orang yang
menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan
orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,
kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka
sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa mencari yang di
balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang
yang memelihara amanah-amanah (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang
yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi,
(yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. (Al Quran Al Karim Surah Al Mu’minun 1-11)
Rangkaian ayat surat Al
Mu’minun tadi merupakan perpaduan antara ibadah formal (sholat, zakat) dan
ibadah non formal (menjaga perkataan, menjaga kehormatan, mengemban amanah).
Begitulah Iman, dia adalah integrasi antara hubungan vertikal kepada Allah dan
horizontal kepada manusia.
Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka
berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali
(perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah
dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada
ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian
itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas. (Al Quran Al Karim Surah Ali Imran ayat 112)
Dan semua itu tidak ada dalam
ajaran agama lain, hanya Islam saja. Sisi inilah yang tidak dilihat oleh Danah
Zohar dan Ian Marshall. Mereka menganggap bahwa agama hanyalah kumpulan doktrin
ritual belaka. Tapi Islam tidaklah seperti itu, ia juga mengatur hingga
masalah-masalah sosial kemasyarakatan. Anda akan temukan banyak sekali hadits
Rasulullah Muhammad saw yang mengajarkan tentang teknis hubungan horizontal
itu, tapi anda juga dapat temukan muara pada hadits tadi, yakni janji balasan
dari Allah.
Sebagai contoh kecil adalah
sebuah hadits Nabi Muhammad saw tentang adab makan:
Hudzaifah r.a. berkata: Kami biasa jika hadir
dalam suatu hidangan makan bersama Rasulullah saw, tidak berani meletakkan
tangan di atas makanan hingga Rasulullah saw lebih dahulu meletakkan tangan di
atas makanan itu. Dan pada suatu hari kami menghadapi hidangan makan, mendadak
seorang perempuan seperti ada yang mendorongkannya untuk meletakkan tangan
mengambil makanan itu, maka oleh Rasulullah saw dipegang tangannya, kemudian
datang pula seorang Badui, seolah-olah didorong akan meletakkan tangan pada
makanan itu, maka dipegang juga oleh Rasulullah saw. Kemudian Nabi saw
bersabda: Sesungguhnya syaithan merebut makanan yang tidak disebut nama Allah,
dan ia mendatangkan wanita ini untuk mengambil bagian dari makanan ini, maka
saya pegang tangannya. Kemudian mendatangkan Badui ini untuk mengambil bagian
dari makanan ini, maka saya pegang tangannya. Demi Allah yang jiwaku ada di
tanganNya, bahwa tangan syaithan itu terpegang oleh saya bersama tangan kedua
orang ini. Kemudian Rasulullah saw
menyebut nama Allah dan makan. (Hadits
Riwayat Muslim)
‘Aisyah
r.a. berkata: “Ketika Rasulullah sawa sedang makan-makan bersama enam orang
dari sahabatnya, mendadak datang seorang Badui, lalu makan semua isi hidangan
itu dalam dua kali suap. Maka bersabda Rasulullah saw : Andaikan ia menyebut
nama Allah tentu akan mencukupi kamu sekalian.” (Hadist Riwayat At
Tirmidzi)
Konsekuensi lain jika anda menjawab yang kedua maka
harus pula mengambil semua komponen taqwa yang ada di dalam Al Quran. Salah
satu diantaranya yang mungkin akan terasa sangat berat bagi orang-orang yang
mengagungkan mazhab lintas agama:
Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku
turunkan (Al Qur'an) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan
janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu
menukarkan ayat-ayat- Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu
harus bertakwa. (Al Quran Al Karim Surah Al
Baqarah ayat 41)
Dan bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada
Allah sajalah orang-orang mukmin itu harus bertawakal. (Al Quran Al Karim Surah Al Maidah ayat 11)
Memurnikan ketaatan kepada Allah itulah yang
disebut sebagai Ikhlas, sebuah terminologi Islam lain yang juga sudah
dilencengkan dari makna asalnya.
Padahal
mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan
kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan
shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (Al Quran Al Karim Surah Al
Bayyinah ayat 5)
Jadi sangat kentara sekali
perbedaan antara kedua pilihan. Dan sungguh kita ummat muslim ini diperintahkan untuk mengejar derajat
Taqwa itu, dan hal inilah yang membedakan seseorang yang memiliki kecerdasan
spiritual.
L.
Berbedakah Kecerdasan Spiritual
dengan Sikap Religius
Kecerdasan
spiritual tidak hanya diartikan terbatas pada rajin shalat, rajin beribadah,
rajin ke masjid, dan ritual ibadah-ibadah lainnya. Tetapi, kecerdasan spiritual
itu juga kemampuan seseorang untuk memberi makna dalam kehidupan. Selain itu
ada juga orang yang menambahkan kecerdasan spiritual itu sebagai kemampuan
untuk tetap bahagia dalam situasi apapun tanpa tergantung kepada situasinya.
Mengutip Tony
Buzan, pakar mengenai otak dari Amerika,
menyebutkan bahwa ”Ciri orang yang cerdas spiritual itu di antaranya
adalah senang berbuat baik, senang menolong orang lain, telah menemukan tujuan
hidupnya, jadi merasa memikul sebuah misi yang mulia kemudian merasa terhubung
dengan sumber kekuatan di alam semesta yaitu Tuhan, dan punya sense of humor
yang baik”.
Penelitian itu
dilanjutkan sampai muncul aliran di dalam psikologi yang membuat terapi baru.
Dulu kalau ada orang depresi diobati dengan obat anti depresi seperti prozak,
sekarang cukup disuruh beramal, menolong orang lain, ternyata terjadi
perbaikan. Dengan menolong dan beramal, dia menemukan bahwa hidupnya bermakna,
dan itu namanya kecerdasan spiritual. Jadi, bagi seorang muslim orang yang
cerdas spiritual itu tidak cukup atau tidak selesai hanya dengan rajin salat saja, atau beribadah, tapi juga
yang senang membantu orang lain, meninggalkan hal-hal yang akan menimbulkan
kemurkaan Allah, mempunyai kemampuan empati yang tinggi, juga terhadap
penderitaan orang lain, dan bisa memilih kebahagiaan dalam hidupnya.
Sejalan dengan
ayat-ayat yang telah diterangkan di atas bahwa kecerdasan spritual bisa
tercipta dengan adanya pemaknaan terhadap nilai-nilai ke-Tuhanan dan
nilai-nilai ke-Tuhanan tersebut bisa terbangun tidak hanya dengan pemaknaan
hubungan vertikal dengan Tuhan tapi juga dengan adanya pemaknaan terhadap
nilai-nilai hubungan horizontal terhadap sesama.
Pada Dasarnya Manusia Memiliki SQ untuk Dikembangakan
Setiap individu
normal memiliki kecerdasan-kecerdasan yang telah dikemukakan diatas.
Masing-masing kecerdasan itu telah ada sejak manusia lahir. Jadi, pengenalan
atas diri sehingga seseorang menyadari siapa dia, dari mana, dimana dia berada,
dan kemana dia pergi.
Kecerdasan
spritual telah dimiliki oleh anak kecil sekalipun. Hal ini dapat dilihat dari
kepolosan, kebeningan, serta kesucian anak berpikir, berbicara dan berbuat.
Pengabaian atas kecerdasan spritual ini serta penekanan pada jenis kecerdasan
lainnya, dapat mengakibatkan kegagalan dalam kehidupan di kemudian hari.
Seseorang dapat
berhasil memperoleh banyak harta, banyak pengetahuan, banyak kerabat, tetapi
itu semua bukan jaminan bahwa orang itu telah mencapai kepuasan serta kedamaian
lahir dan batin. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan ia menemukan kegersangan
dan kegelisahan dalam kehidupan sehari-hari karena banyak yang dilakukannya
selama ini tidak sesuai atau bertentangan dengan hati nuraninya.
Agama banyak
memberikan perhatian bagaimana cara meningkatkan dan mendayagunakan IQ dan EQ
melalui pelajaran agama, manusia memperoleh pengetahuan dan pemahaman atas
keberadaan diri dan tujuannya. Sebenarnya yang dikehendaki oleh agama tidak
hanya berhenti pada batas pengetahuan dan pemahaman saja, tetapi kesadaran dan
aktualisasi diri dalam berbagai perbuatan sebagai tindak lanjutnya. Melakukan
kegiatan ibadah agama merupakan kewajiban setiap pemeluk agama. Tetapi, tentu
tidak hanya sebagai kegiatan ritual semata yang kemudian menjadi rutinitas yang
tidak bermakna karena tidak didasari oleh kesadaran bahwa ibadah itu dilakukan
dalam konteks hubungan antar manusia dan Penciptanya.
Berbuat baik
atau menolong sesama dianjurkan oleh ajaran agama. Membantu orang lain memiliki
makna spiritual apabila dilakukan bukan semata karena anjuran, tetapi karena
kesadaran bahwa orang lain itu adalah sama dengan dirinya sendiri, memiliki
asal serta tujuan hidup yang sama, mempunyai hak dan kewajiban yang sama pula.
Dengan kesadaran itu, seseorang menyadari kebergantungan kepada orang lain dan
tidak dapat hidup sendirian tanpa orang lain. Dengan kesadaran itu, semua
manusia adalah bersaudara dan setiap perbuatan dapat diartikan sebagai mampu
mengasihi Tuhan melebihi mengasihi dirinya sendiri dan mengasihi sesama manusia
sama seperti ia mengasihi dirinya sendiri. Mengasihi berarti juga tidak
melecehkan atau merendahkan orang lain.
Pengalaman
spiritual adalah puncak tertinggi yang dapat dicapai oleh manusia serta
merupakan peneguhan dari keberadaannya sebagai makhluk spiritual. Untuk
membantu manusia memperoleh pengalaman spiritual ini, agama membantu dengan
mengajarkan iman, berdoa atau sembahyang untuk memperoleh ketenangan batin,
berpuasa, beramal dan bersyukur serta penyerahan diri secara total kepada
Tuhan.