Minggu, 08 Februari 2015

PENGARUH GAYA HIDUP WANITA KARIR, KONSEP DIRI, DAN POLA COPING POSITIF, TERHADAP PSYCHOLOGICAL WELL-BEING PADA WANITA LAJANG YANG BELUM MENIKAH



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
Gaya hidup menjadi ciri khas yang tidak dapat terlepaskan dari masyarakat modern. Bagi seorang yang hidup di dalam kebudayaan masyarakat yang serba kompleks seperti sekarang ini, terkadang diperlukan sebuah gaya hidup untuk mendukung semua aktifitas dan eksistensinya. Hal ini merujuk pada kecanggihan teknologi, tren dan mode yang terus berkembang, disertai adanya tuntutan zaman terhadap pandangan profesionalitas seseorang yang nantinya akan mewarnai jenjang kebutuhan, gaya hidup serta karier.
Gaya hidup merupakan cerminan dari kepribadian individu secara menyeluruh yang diwujudkan dalam kegiatan, minat dan opini dari individu yang bersangkutan. Pada mulanya konsep gaya hidup diperkenalkan oleh adler. Adler mengatakan bahwa gaya hidup merupakan prinsip-prinsip idiografik yang dapat digunakan sebagai landasan untuk memahami tingkah laku dan keunikan individu yang akan melatar belakangi sifat khas yang dimilikinya (Hall dan Lindsey, 1985). Gaya hidup adalah cara unik individu untuk mencari tujuan hidup yang disusun dalam perencanaan hidup untuk menemukan dirinya. Adler menyatakan bahwa gaya hidup adalah hal yang paling berpengaruh pada sikap dan perilaku seseorang dalam hubungannya dengan 3 hal utama dalam kehidupan, yaitu pekerjaan, persahabatan, dan cinta.
Gaya hidup didefinisikan sebagai cara hidup yang dikenali dari bagaimana orang menggunakan waktu dan melakukan aktivitas mereka yang berkaitan dengan mereka sendiri dan dunia sekitar mereka (brotoharjoso, dkk, 2005).
Gaya hidup menurut Kotler (2002, p. 192) adalah pola hidup seseorang di dunia yang diekspresikan dalam aktivitas, minat, dan opininya. Gaya hidup menggambarkan “keseluruhan diri seseorang” dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Gaya hidup menggambarkan seluruh pola seseorang dalam beraksi dan berinteraksi di dunia.
Menurut Susanto (dalam Nugrahani, 2003) gaya hidup adalah perpaduan antara kebutuhan ekspresi diri dan harapan kelompok terhadap seseorang dalam bertindak berdasarkan pada norma yang berlaku. Oleh karena itu banyak diketahui macam gaya hidup yang berkembang di masyarakat sekarang misalnya gaya hidup hedonis, gaya hidup metropolis, gaya hidup global dan lain sebagainya.
Menurut Lisnawati (2001) gaya hidup sehat menggambarkan pola perilaku sehari-hari yang mengarah pada upaya memelihara kondisi fisik, mental dan social agar selalu berada dalam keadaan positif. Gaya hidup sehat meliputi kebiasaan tidur, makan, pengendalian berat badan, tidak merokok atau minum-minuman beralkohol, berolahraga secara teratur dan terampil dalam mengelola stres yang dialami. Sejalan dengan pendapat Lisnawati, Notoatmojo (2005) menyebutkan bahwa perilaku sehat (healthy behavior) adalah perilaku-perilaku atau kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan upaya mempertahankan dan meningkatkan kesehatan. Untuk mencapai gaya hidup yang sehat diperlukan pertahanan yang baik dengan menghindari kelebihan dan kekurangan yang menyebabkan ketidakseimbangan yang menurunkan kekebalan dan semua yang mendatangkan penyakit (Hardinger dan Shryock, 2001).
Sebuah penelitian tentang gaya hidup orang-orang eropa yang dilakukan oleh Chaney, Bauddrillard (1970), Ibrahim (1997), Featherson (2001) dan Barker (2000) menjelaskan bahwa abad ini adalah era globalisasi dan modernisasi, dimana manusia memperlihatkan dan mengutamakan pola perilaku konsumtif atas produk-produk budaya modern, sehingga membentuk sikap hidup, karakter dan mentalitas, image yang lebih mengedepankan individualitas, egoisme, mtrelialistis dan rasionalisasi. Chaney dan feathersone menjelaskan bahwa indicator gaya hjidup seseorang muncul ketika mengkonsumsi produk-produk kapitalis dengan industri mcdonald di mall atau supermall, industri kosmetik, industri sepatu, industri hp seluler dan sebagainya.
Apresiasi konsumsi dan gaya hidup orang Eropa di Barat maupun Asia non-Barat mengalami rentang waktu yang panjang (Chaney, Braudrillard dan Subandi) bahwa gaya hidup orang eropa dialami sekitar tahun 1950-an dan orang Asia, khusus Indonesia mengalami pada tahun 1990an. Adaptasi gaya hidup ini terjadi dimana melalui arus globalisasi dan berkembang pada seluruh aspek kehidupan. Disadari atau tidak pola gaya hidup modern ini menuju pada satu kesimpulan yaitu menarik masyarakat semakin jauh untuk terlibat. Dilihat dari sisi gendernya, wanita atau perempuanlah yang lebih banyak terbawa arus modernisasi dimana pada saat ini dizaman emansipasi wanita, perempuan bergerak ke segala arah menuju kemajuan.
Citra diri adalah bagian yang paling diserang oleh mereka yang menjajakan gaya hidup tertentu untuk menarik perhatian masyarakat (Chaney, 1996). Semua orang berlomba-lomba mengejar materi, berlomba-lomba mencapai sesuatu yang lebih dan lebih lagi. Kecenderungan masyarajat menjadi lebih modern inilah yang menyebabkan adanya pergeseran nilai-nilai yang terjadi pada wanita modern sekarang. Tuntutan ekonomi ternyata bukan termasuk factor utama yang menuntut wanita untuk berkarir, namun gaya hidup yang dianut seorang wanita yang memotivasi mereka untuk mengembangkan aktivitas, minat, kemampuan, dan opininya dalam sebuah karir yang sesuai dengan bidang keilmuan dan keahlian yang mereka miliki.
Sarwono (1989) menyatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi gaya hidup adalah konsep diri. Amstrong (dalam Nugraheni, 2003) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi gaya hidup seseorang ada 2, yaitu faktor yang berasal dari dalam diri individu (internal) dan faktor yang berasal dari luar (eksternal). Factor-faktor internal meliputi, sikap, pengalaman dan pengamatan, kepribadian, konsep diri, motif, persepsi. Adapun faktor eksternal dijelaskan oleh Nugraheni (2003) sebagai berikut: Kelompok referensi, keluarga, kelas sosial dan kebudayaan.
Keputusan seorang wanita untuk berkarir di luar tugas utamanya sebagai ibu rumah tangga tentu sangat dipengaruhi oleh banyak factor, baik internal maupun eksternal, misalnya adanya persepsi bahwa dengan berkarier maka seorang wanita akan mempunyai dunia sosial yang lebih luas sehingga mampu mengekspresikan dan mengaktualisasikan kemampuan diri di dalamnya dan menjadi lebih bermanfaat bagi sesama. Selain itu, budaya masyarakat dewasa ini, menempatkan wanita karier ke dalam kelas sosial yang lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang hanya mengurus pekerjaan domestic rumahtangga.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, 1988), Karir berasal dari kata karier (Belanda) yang berarti pertama, perkembangan dan kemajuan dalam kehidupan, pekerjaan dan jabatan. Kedua pekerjaan yang memberikan harapan untuk maju. Selain itu kata karir selalu dihubungkan dengan tingkat atau jenis pekerjaan seseorang. Wanita karir berarti wanita yang berkecimpung dalam kegiatan profesi (usaha dan perusahaan).   
Dengan demikian dapat dirumuskan bahwa “wanita karir” adalah wanita yang menekuni sesuatu atau beberapa pekerjaan yang dilandasi oleh keahlian tertentu yang dimilikinya untuk mencapai suatu kemajuan dalam hidup, pekerjaan, atau jabatan. Pengertian wanita karir sebagaimana dirumuskan diatas, nampaknya tidak identik dengan” wanita bekarja”. Berikut beberapa ciri wanita karir meliputi:
1.             Wanita yang aktif melakukan kegiatan-kegiatan untuk mencapai suatu kemajuan.
2.             Kegiatan-kegiatan yang dilakukan itu merupakan kegiatan-kegiatan profesional sesuai dengan bidang yang ditekuninya, baik di bidang politik, ekonomi, pemerintahan, ilmu pengetahuan, ketentaraan, sosial, budaya pendidikan, maupun di bidang-bidang lainnya.
3.             Bidang pekerjaan yang ditekuni oleh wanita karir adalah pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya dan dapat mendatangkan kemajuan dalam kehidupan, pekerjaan, atau jabatan

Factor internal lain yang memotivasi wanita untuk berkarier adalah konsep diri. Wanita karier cenderung mempunyai konsep diri yang positif. Mereka memandang bahwa dirinya berharga, mempunyai potensi dan kemampuan yang bisa dikembangkan dan diaktualisasikan, mampu menghasilkan uang dan materi, dan tentusaja lebih mandiri dalam menentukan pilihan dan keputusan hidup. Hal ini dikarenakan wanita karier mempunyai tempat untuk mengaktualisasikan kemampuan dirinya juga menyalurkan hobinya, mempunyai banyak teman dan relasi kerja.  
Menurut Brooks dan Emmart (1976), orang yang memiliki konsep diri positif menunjukkan karakteristik sebagai berikut: Merasa mampu mengatasi masalah, merasa setara dengan orang lain, menerima pujian tanpa rasa malu, merasa mampu memperbaiki diri. Kemampuan untuk melakukan proses refleksi diri untuk memperbaiki perilaku yang dianggap kurang.
Sedangkan orang yang memiliki konsep diri yang negatif menunjukkan karakteristik sebagai berikut: Peka terhadap kritik, bersikap responsif terhadap pujian, cenderung merasa tidak disukai orang lain, mempunyai sikap hiperkritik. Suka melakukan kritik negatif secara berlebihan terhadap orang lain, mengalami hambatan dalam interaksi dengan lingkungan sosialnya.
Konsep diri kearah positif adalah konsep diri yang banyak dipengaruhi oleh pengalaman hidup yang menyenangkan yang dapat membuat individu untuk meningkatkan rasa percaya diri, perasaan kontrol diri, dan mencapai well-being (Hoelter,1983; Thoits,1991). Sebaliknya penilaian negative terhadap hidup akan memepengaruhi terbentuknya konsep diri negative pada individu, self esteem, self critical dan self enhancing. Ini berarti bahwa penilaian yang positif terhadap diri individu akan meningkatkan well beingnya begitu juga sebaliknya, penilaian negative diri individu akan menurunkan tingkat well-beingnya.
Konsep diri yang baik khususnya pada wanita karir pada akhirnya akan menjadikan gaya hidup mereka menjadi lebih baik yang pada akhirnya tentu saja akan berimbas terhadap bagaimana seorang wanita dalam menyelesaikan masalah, menyesuaikan diri dengan perubahan, serta respon terhadap situasi yang mengancam atau yang dikenal dengan istilah mekanisme koping.
Koping adalah sebuah mekanisme untuk mengatasi perubahan yang dihadapi atau beban yang diterima tubuh dan beban tersebut menimbulkan respon tubuh yang sifatnya nonspesifik yaitu stres. Apabila mekanisme coping ini berhasil, seseorang akan dapat beradaptasi terhadap perubahan atau beban tersebut (Ahyar, 2010).
Mekanisme koping adalah cara yang dilakukan individu dalam menyelesaikan masalah, menyesuaikan diri dengan perubahan, serta respon terhadap situasi yang mengancam (Keliat, 1999).
Sedangkan menurut Lazarus (1985), koping adalah perubahan kognitif dan perilaku secara konstan dalam upaya untuk mengatasi tuntutan internal dan atau eksternal khusus yang melelahkan atau melebihi sumber individu.
Berdasarkan kedua definisi di atas, maka yang dimaksud mekanisme koping adalah cara yang digunakan individu dalam menyelesaikan masalah, mengatasi perubahan yang terjadi dan situasi yang mengancam baik secara kognitif maupun perilaku
Individu dapat mengatasi stres dengan menggerakkan sumber koping di lingkungan. Ada lima sumber koping yaitu: aset ekonomi, kemampuan dan keterampilan individu, teknik-teknik pertahanan, dukungan sosial dan dorongan motivasi (Hidayat, 2008).
Dari gaya hidup seorang wanita karir, dia akan memiliki sebuah konsep diri dan cara menyelesaikan masalah yang tentu saja akan sangat berbeda dengan mereka yang tidak berkarir. Bahkan pendapat umum yang tumbuh dalam masyarakat, wanita yang sukses dalam berkarir, sangat sulit atau bahkan tidak memiliki hubungan yang langgeng dan tetap, apalagi bila pasangannya tersebut memiliki karir dan penghasilan yang tidak sebagus sang wanita.
Di Indonesia, kita mengenal sebutan perawan tua, yaitu para wanita yang hingga usia matang belum menikah. Bahkan di China, wanita yang hingga usia 27 tahun belum menikah akan mendapat predikat perempuan sisa. Sebutan ini resmi dikeluarkan oleh pemerintah China selama beberapa tahun terakhir. Sheng-nu atau perempuan sisa adalah predikat menyakitkan bagi banyak wanita di China. Panggilan ini secara resmi digunakan mulai tahun 2007, dilansir BBC News. Panggilan ini mulai digalakkan secara agresif oleh pemerintah untuk memberi stigma pada wanita berpendidikan berusia 27 tahun yang belum menikah. Meskipun pada akhirnya, sebutan ini dicabut setelah mendapat keluhan dari sejumlah wanita.
Fenomena tentang wanita lajang di Indonesia sudah banyak sekali dibahas oleh para peneliti-peneliti. Menurut Kartika (dalam Rendy, 2002) bagi wanita Indonesia menikah adalah hal yang sarat dengan berbagai nilai yang telah lama ada dikondisikan dalam budaya patriarki. Kondisi budaya, agama dan lingkungan sekitar menuntut wanita wajib memasuki jenjang dalam lembaga perkawinan, karena jika tidak maka akan muncul labelling bagi wanita yang dalam kategori cukup umur dan belum menikah. Salah satu label yang sering diterima wanita lajang adalah perawan tua.
Menurut Rieka (dalam Rendy, 2008) ada faktor yang melatarbelakangi wanita lajang yaitu banyak wanita yang masih memiliki pandangan ideal terhadap pasangan. Sekarang ini semakin banyak wanita yang mandiri, memiliki karir sukses dan bisa memenuhi kebutuhan finansialnya sendiri. Alhasil menikah dengan tujuan menggantungkan kebutuhan finansial kepada suami tentu tidak ada lagi. Kalaupun menikah tidak ada urusannya dengan kebutuhan ekonomi namun mencari kenyamanan dengan pasangan dan atau memiliki keturunan.
Bagi wanita, bekerja merupakan kesempatan untuk mengaktualisasikan diri. Bekerja memungkinkan seorang wanita mengekspresikan dirinya sendiri dengan cara kreatif dan produktif untuk menghasilkan sesuatu yang mendatangkan kebahagiaan terhadap dirinya sendiri, terutama jika prestasinya tersebut mendapatkan penghargaan dan umpan balik yang positif. Melalui bekerja, wanita berusaha menemukan arti dan identitas dirinya, pencapaian tersebut mendatangkan rasa percaya diri dan kebahagiaan (Hirmaningsih, 2008).
Maslow (dalam Semiun, 2007) berpendapat bahwa apabila kebutuhan-kebutuhan fisiologis dan rasa aman terpenuhi, maka kebutuhan akan cinta dan memiliki akan muncul. Kebutuhan akan cinta akan terasa apabila kekasih, istri, suami, atau anak-anak tidak ada. Namun demikian, kebutuhan akan cinta bisa terungkap dalam keinginan memiliki teman-teman atau dalam keinginan menjalin hubungan-hubungan afektif dengan orang lain. Kebutuhan untuk memiliki akan terlaksana apabila individu menggabungkan diri dengan suatu kelompok atau perkumpulan, menerima nilai-nilai dan sifat-sifat yang ada di kelompok tersebut. Beberapa wanita lajang pada umumnya memperoleh kebutuhan akan cinta atau hubungan afektif dengan sahabat-sahabat mereka.
Kecenderungan melajang ini biasanya lebih sering dijumpai pada perempuan yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi, dan mengutamakan karir mereka dibandingkan perempuan-perempuan kebanyakan. Mereka cenderung memiliki gaya hidup yang lebih mandiri dan kebebasan yang tidak dimiliki oleh perempuan-perempuan yang sudah menikah pada umumnya. (Robinson dan Bessell, 2002: 229). Mereka cukup mempunyai pendapatan, siap konsumsi dan cenderung membelanjakannya untuk mendukung hidup hura-hura, seperti hiburan, membeli pakaian dan dekorasi rumah (Prasetijo dan Ihalaw, 2003).
Di sudut lain, seiring berjalannya waktu serta banyaknya kesempatan dalam memperluas aspek-aspek dalam kehidupan, sehingga sekarang ini semakin banyak orang yang menganggap bahwa wanita dewasa yang belum menikah justru dianggap sebagai simbol sosok modern. Wanita lajang bergairah dalam pekerjaan mereka dan memiliki antusias dalam berprestasi. Banyak dari wanita lajang yang telah membantu orang tua. Mereka membiayai keluarga, menyerahkan seluruh pendapatannya untuk membiayai pendidikan saudara-saudara mereka (Diana, 2008).
Dari semua konsep dan realita yang tergambarkan di atas peneliti mencoba untuk membahas lebih dalam, apakah ada korelasi positif antara gaya hidup wanita karir yang belum menikah dengan konsep diri dan pola coping positif mereka terhadap Psychological Well-Being pada setiap pribadi wanita tersebut.
Ryff (dalam Allan Car, 2008) mendefinisikan psychological well-being sebagai suatu dorongan untuk menggali potensi diri individu secara keseluruhan. Dorongan tersebut dapat menyebabkan seseorang menjadi pasrah terhadap keadaan yang membuat psychological well-being individu menjadi rendah atau berusaha untuk memperbaiki keadaan hidup yang akan membuat psychological well-being individu tersebut menjadi tinggi (Ryff & Keyes, 1995).
Psychological well-being merupakan realisasi dan pencapaian penuh dari potensi individu dimana individu dapat menerima segala kekurangan dan kelebihan dirinya, mandiri, mampu membina hubungan yang positif dengan orang lain, dapat menguasai lingkungannya dalam arti dapat memodifikasi lingkungan agar sesuai dengan keinginannya, memiliki tujuan dalam hidup, serta terus mengembangkan pribadinya. Psychological well-being bukan hanya kepuasan hidup dan keseimbangan antara afek positif dan afek negative, namun juga melibatkan persepsi dari keterlibatan dengan tantangan-tantangan selama hidup (Keyes, Shmotkin dan Ryff, 2002).
Pada penelitian kali ini, peneliti melihat adanya sebuah pengaruh gaya hidup wanita karir dengan konsep diri, pola coping positif yang mereka meiliki terhadap Psychological Well-Being terutama pada wanita lajang yang belum  menikah. Dan pengaruh tersebut terlihat pada pola hidup, pemilihahan keputusan, penyelesaina masalah dan lain ebagainya.

A.      Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pengaruh gaya hidup wanita karir, konsep diri, dan pola coping positif terhadap Psychological Well-Being pada wanita lajang yang belum menikah.

B.       Tujuan Penelitian
Menganalisis pengaruh gaya hidup wanita karir, konsep diri, dan pola coping positif, terhadap Psychological Well-Being pada wanita lajang yang belum menikah.

C.      Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan dua manfaat, yaitu:
1.           Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi ilmu psikologi, khususnya bagi Psikologi Positif dan Psikologi Kesehatan Mental.  Selain itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman terkait tentang kondisi Psychological Well-Being pada wanita lajang ditinjau berdasarkan pola coping positif, konsep diri, dan gaya hidup wanita karir.
2.           Manfaat Praktis
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat mendorong peneliti lain untuk dapat meneliti lebih lanjut masalah mengenai Psychological Well-Being pada wanita lajang yang belum menikah. Penelitian ini merupakan langkah awal untuk memahami bagaimana kondisi subjective well being pada wanita lajang yang belum menikah dilihat dari konsep diri, gaya hidup wanita karir dan pola coping positif yang mereka kembangkan. Harapannya, hasil penelitian ini bermanfaat bagi masyarakat luas dalam memahami dan memberikan perlakuan bagi wanita lajang yang belum menikah dan mempunyai karier.

D.      Keaslian Penelitian
Penelitian mengenai gaya hidup sudah banyak dilakukan oleh para peneliti sebeumnya, baik gaya hidup remaja, wanita berumah tangga, dan lain sebagainya. Sepanjang pengetahuan penyusun, diantara penelitian tersebut adalah disertasi yang disusun oleh Hartanto Brotoharsojo dari Universitas Indonesia, disertasinya meneliti tentang Hubungan antara gaya hidup, konsep-diri, citra produk dan sistem nilai dengan intensi konsumen wanita untuk membeli kosmetik lokal, 'patungan' dan/atau impor di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya..
Kemudian ada juga penelitian yang dilakukan oleh Dyah Kumalasari tentang single professional women sebagai fenomena gaya hidup baru di masyarakat Yogyakarta (studi kasus: kabupaten sleman). Selain penelitian di atas, ada juga penelitian yang dilakukan oleh Pauline Sutantodan Farida Haryoko tentang Gambaran Konsep Diri pada Wanta Berkarier Sukses yang Belum Menikah dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia yang dimuat dalam jurnal INSAN Vol. 12 No. 01, April 2010.
Pada penelitian lain juga pernah dibahas mengenai Hubungan Antara Konsep Diri Dengan Perilaku Konsumtif Remaja Putri Dalam Pembelian Kosmetik Melalui Katalog Di Sma Negeri 1 Semarang yang dilakukan oleh Sintiche Ariesny Parma dari Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro Semarang.
Gambaran kepribadian dan psychological well-being ditinjau berdasarkan golongan darahnya yang diteliti oleh I Made Yudhistira Dwipayama, M.Psi. selain itu, ada juga penelitian tentang Hubungan Antara  Gaya  Hidup Achievers  Dengan Minat Menggunakan Kartu  Kredit   Pada Pegawai  Wanita  Sekretariat Daerah Propinsi Jawa  Tengah Skripsi yang disusun oleh Veronika Shinta   Prima  Alam pada program studi Psikologi Fakultas  Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang mei 2006.

Diantara penelitian yang telah dilakukan oleh para peneliti-peneliti terdahulu, penyusun belum menemukan adanya penelitian yang berkaitan dengan pengaruh gaya hidup wanita karir konsep diri, dan pola coping positif, terhadap Psychological Well-Being pada wanita lajang yang belum menikah.

E.       Landasan Teori
Ryan dan Deci (2001), mengemukakan dua perspektif mengenai well-being. Pendekatan hedonic, yang mendefenisikan well-being sebagai kesenangan atau kebahagiaan dan pendekatan eudaimonic, yang fokus pada realisasi diri, ekspresi personal dan tingkat dimana individu mampu mengaktualisasikan kemampuannya. Waterman (1993), menekankan bahwa eudaimonic terdiri dari pemenuhan atau menyadari siapa dirinya sebenarnya. Beberapa literature dari para ahli merujuk pada pendefinisian positive psychological functioning. Diantaranya adalah teori Maslow (1968) tentang konsep aktualisasi diri (self-actualization), pandangan Roger (1961) tentang individu yang berfungsi secara penuh (fully functioning system), formulasi teori Jung (1933) tentang individuasi (individuation), dan konsep kedewasaan (maturity) oleh Allport (1961).
Teori psychological well-being dikembangkan oleh Ryff pada tahun 1989. Psychological well-being merujuk pada perasaan seseorang mengenai aktivitas hidup sehari-hari. Segala aktifitas yang dilakukan oleh individu yang berlangsung setiap hari dimana dalam proses tersebut kemungkinan mengalami fluktuasi pikiran dan perasaan yang dimulai dari kondisi mental negatif sampai pada kondisi mental positif, misalnya dari trauma sampai penerimaan hidup dinamakan psychological well-being (Bradburn dalam Ryff & Keyes,1995).
Ryff (dalam Allan Car, 2008) mendefinisikan psychological well-being sebagai suatu dorongan untuk menggali potensi diri individu secara keseluruhan. Dorongan tersebut dapat menyebabkan seseorang menjadi pasrah terhadap keadaan yang membuat psychological well-being individu menjadi rendah atau berusaha untuk memperbaiki keadaan hidup yang akan membuat psychological well-being individu tersebut menjadi tinggi (Ryff & Keyes, 1995).
Lawton (dalam Keyes, 2003), mendefinisikan psychological well-being sebagai tingkat evaluasi mengenai kompetensi dan diri seseorang, yang ditekankan pada hirarki tujuan individu. Menurut Ryff (1989), psychological well-being merupakan realisasi dan pencapaian penuh dari potensi individu dimana individu dapat menerima segala kekurangan dan kelebihan dirinya, mandiri, mampu membina hubungan yang positif dengan orang lain, dapat menguasai lingkungannya dalam arti dapat memodifikasi lingkungan agar sesuai dengan keinginannya, memiliki tujuan dalam hidup, serta terus mengembangkan pribadinya. Psychological well-being bukan hanya kepuasan hidup dan keseimbangan antara afek positif dan afek negative, namun juga melibatkan persepsi dari keterlibatan dengan tantangan-tantangan selama hidup (Keyes, Shmotkin dan Ryff, 2002).
Dari pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa psychological well-being adalah kondisi individu yang ditandai dengan perasaan bahagia, adanya kepuasan hidup dan realisasi diri. Kondisi ini sendiri dipengaruhi oleh penerimaan diri, pertumbuhan diri, tujuan hidup, penguasaan lingkungan, otonomi dan hubungan positif dengan orang lain.
Konsep psychological well-being memiliki enam dimensi pendukung. Masing-masing dimensi dalam psychological well-being menjelaskan tantangan-tantangan yang berbeda yang dihadapi individu untuk dapat berfungsi secara penuh dan positif (Ryff, 1989a; Ryff & Singer, 2006; Ryff, dalam Keyes & Haidt, 2003). Dimensi-dimensi tersebut adalah:
1.         Penerimaan Diri (Self Acceptance)
Dimensi ini didefinisikan sebagai karakteristik utama dari kesehatan mental, aktualisasi diri, berfungsi optimal dan kematangan. Penerimaan diri berarti sikap yang positif terhadap diri sendiri dan kehidupan di masa lalu, serta mampu menerima kekurangan dan kelebihan serta batasan-batasan yang dimiliki dalam aspek diri individu.
2.         Pertumbuhan Diri (Personal Growth)
Dimensi ini didefenisikan sebagai kemampuan potensial yang dimiliki seseorang, perkembangan diri, serta keterbukaan terhadap pengalaman-pengalaman baru. Individu yang baik dalam dimensi ini memiliki perasaan untuk terus berkembang, melihat diri sendiri sebagai sesuatu yang terus tumbuh, menyadari potensi-potensi yang dimiliki dan mampu melihat peningkatan dalam diri dan tingkah laku dari waktu ke waktu, dan ini berlaku sebaliknya.
3.         Tujuan Hidup (Purpose in Life)
Dimensi ini menekankan pentingnya memiliki tujuan, pentingnya keterarahan dalam hidup dan percaya bahwa hidup memiliki tujuan dan makna. Individu yang memiliki tujuan hidup yang baik, memiliki target dan cita-cita serta merasa bahwa baik kehidupan di masa lalu dan sekarang memiliki makna tertentu.
4.         Penguasaan Lingkungan (Environmental Mastery)
Dimensi ini ditandai dengan kemampuan individu untuk memilih atau menciptakan lingkungan yang cocok atau untuk mengatur lingkungan yang kompleks. Individu yang baik dalam dimensi ini ditandai dengan kemampuannya untuk memilih dan menciptakan sebuah lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan dan nilai-nilai pibadinya dan memanfaatkan secara maksimal sumber-sumber peluang yang ada di lingkungan.
5.         Otonomi (Autonomy)
Dimensi ini dideskripsikan dengan individu yang mampu menampilkan sikap kemandirian, memiliki standard internal dan menolak tekanan sosial yang tidak sesuai. Individu yang memiliki tingkatan otonomi yang baik ditunjukkan sebagai pribadi yang mandiri, mampu menolak tekanan sosial untuk berpikir dan bertingkah laku dengan cara tertentu, mampu mengatur tingkah laku diri sendiri dan mengevaluasi diri sendiri dengan standard pribadi dan hal ini berlaku sebaliknya.
6.         Hubungan Positif dengan Orang Lain (Positive Relations with Others)
Dimensi ini ditandai dengan adanya hubungan yang hangat, memuaskan, saling percaya dengan orang lain serta memungkinkan untuk timbulnya empati dan intimasi. Individu yang memiliki hubungan positif yang baik dengan orang lain ditandai dengan memiliki hubungan yang hangat, memuaskan dan saling percaya dengan orang lain, memiliki perhatian terhadap kesejahteraan orang lain, dapat menunjukkan rasa empati, rasa sayang dan keintiman serta memiliki konsep dalam memberi dan menerima dalam hubungan sesama manusia dan ini juga berlaku sebaliknya.

Psychological well-being pada diri seseorang ini dipengaruhi oleh beberap faktor, yaitu:
1.         Usia
Penelitian Ryff pada tahun 1989, 1991, 1995, dan 1998 menunjukkan bahwa usia menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi psychological well being. Pada aspek penguasaan lingkungan, otonomi, penerimaan diri, hubungan positif, menunjukkan peningkatan terhadap usia yang semakin dewasa. Sedangkan tujuan hidup dan pertumbuhan pribadi menunjukkan penurunan yang tajam pada setiap periode kehidupan usia dewasa (dalam Snyder & Lopez, 2002).
2.         Tingkat Pendidikan
          Ryff, Magee, Kling & Wling (dalam Synder & Lopez, 2002) menemukan bahwa tingkat pendidikan merupakan faktor yang berpengaruh terhadap psychological well being yang dimiliki individu Individu yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih baik memiliki psychological well being yang lebih baik juga.
3.         Jenis Kelamin
Wanita menunjukkan psychological well being yang lebih positif jika dibandingkan dengan pria. Ryff (1989) menunjukkan bahwa pada dimensi relasi positif, wanita menunjukkan skor yang lebih tinggi dibandingkan pria. Sejak kecil, stereotype gender telah tertanam dalam diri anak laki-laki digambarkan sebagai sosok yang agresif dan mandiri, sementara itu perempuan digambarkan sebagai sosok yang pasif dan tergantung, serta sensitif terhadap perasaan orang lain (Papalia & Feldman, 2001). Inilah yang menyebabkan mengapa wanita memiliki skor yang lebih tinggi dalam dimensi hubungan positif dan dapat mempertahankan hubungan yang baik dengan orang lain.
4.         Status Sosial Ekonomi
Status sosial ekonomi berhubungan dengan dimensi penerimaan diri, tujuan hidup, penguasaan lingkungan, dan pertumbuhan diri. Individu yang memiliki status sosial ekonomi yang rendah cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain yang memiliki status sosial ekonomi yang lebih baik dari dirinya (Ryff, dalam Snyder & Lopez, 2002). Individu dengan tingkat penghasilan tinggi, status menikah, dan mempunyai dukungan sosial tinggi akan memiliki psychological well-being yang lebih tinggi.










Daftar Pustaka

Ajzen, I. Attitude, Personality, and Behavior. Open University Press: 2005.
Baudrillard, Jean P. diterjemahkan oleh Wahyunto. Masyarakat Konsumsi. Kreasi Wacana, Yogayakarta: 2004.
Bauna’i, Wanita Karir dalam Prespektif Hukum Islam “Jurnal Keislaman dan Keilmuan Karsa, Vol.11(Mei 2001)
Brooks, W.D., Emmert, P. Interpersonal Community.. Brow Company Publisher. Iowa: 1976
Brotoharsojo, dkk Psikologi Ekonomi dan Konsumen. Psikologi Universitas Indonesia. Depok: 2005.
C.Utami Munandar, Wanita Karir Tantangan dan Peluang,” Wanita dalam Masyarakat Indonesia Akses, Pemberdayaan dan Kesempatan. Sunan Kalijaga Press, Yogyakarta: 2001)
Calvin S. Hall dan Gardner Lindzey, Psikologi Kepribadian 1 Teori-Teori Psikodinamik (Klinis), Kanisius. Jogjakarta: 1993
Huzaemah T.Yanggo, Fiqih Perempuan Kontemporer, Almawardi Prima, Yogyakarta: 2001
Kumpulan Penulis: Editor Idi Subandi Ibrahim. Lifestyle Ecstasy: Kebudayaan Pop dalam Masyarakat Komoditas Indonesia. 1997. Bandung: Jalasutra
Martin Kornberger, Brand Society: How Brands Transform Management and Lifestyle. Cambridge University Press, Melboerne: 2010
Munandar, A.S Psikologi Industri dan Organisasi. Universitas Indonesia Press. Jakarta: 2001
Nugraheni, P.N.A.. Perbedaan Kecenderungan gaya Hidup Hedonis Pada Remaja Ditinjau dari Lokasi Tempat Tinggal. Skripsi 2003 (tidak diterbitkan).
Peter James Burke, Advances in Identity Theory and Research, Springer, Cluwer Academic/Plenum Publisher: Amerika: 2003
Peter Salim dan Yeni Salim, Kamus Besar Bahasa Indonesia Kontemporer, English Press, Jakarta: 1991.
Piliang, Y.A. Dunia yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan. Jalasutra, Yogyakarta: 2005
Plummer, R. Life Span Development Psychology: Personality and Socialization. Academic Press. New York 1983
Sakinah. Media Muslim Muda.Elfata. Solo 2002
Sarlito Wirawan Sarwono, Psikologi remaja, Rajawali Pers, Jogjakarta: 1989
Sarlito Wirawan Sarwono, Psikologi Sosial Kelompok dan Terapan, PT Balai Pustaka, Jakarta: 1999
Sarwono, S.W. Psikologi Remaja. Raja Grafindo Persada, Jakarta: 1989
Subandy,Idi. Ecstasy Gaya Hidup. Mizan. Bandung: 1997
Susanto,A.B. Potret-Potret Gaya Hidup Metropolis. Penerbit Buku. Jakarta: 2001

http://www.ubishops.ca/baudrillardstudies/vol2_2/norris.htm
http://www.transparencynow.com/advertise.htm
http://www.anneahira.com/gaya-hidup-mewah.htm
http://zonegirl.wordpress.com/2011/11/30/pengertian-korupsi-etika-bisnis-dan-hubungan-etika-bisnis-dengan-korupsi/
http://tonymisye.blogspot.com/2011/04/nilai-nilai-individu-dan-sikap-kerja.html
http://sosiologibudaya.wordpress.com/2011/05/18/gaya-hidup/
http://gilangjaelani.blogspot.com/2011/10/kepribadian-nilai-dan-gaya-hidup.html




Tidak ada komentar:

Posting Komentar